Fixed-Mobile Convergence
- Posted: Thursday, February 02, 2006
- |
- Author: pradhana
- |
- Filed under: My Column
Sebenarnya, beberapa tahun lalu, Fixed-Mobile Convergence (FMC) telah menjadi isu sangat menarik di lingkungan industri telekomunikasi, terutama karena mendorong penghematan, baik dalam biaya kapital (capital expenditure) maupun biaya operasional para operator. Namun, karena masih menghadapi perbedaan yang mencolok, seperti kematangan, regulasi, tingkat pertumbuhan dan kecepatan inovasi, FMC belum berhasil diterapkan.
Belakangan, konvergensi ini menarik minat operator, tetapi dengan alasan-alasan yang berbeda. Dengan semakin maraknya penggunaan komunikasi bergerak, baik berbasis GSM (global system for mobile communication) maupun CDMA (code division multiple access), kondisinya semakin kondusif. Selain itu, jumlah pelanggan mobile telah melebihi jumlah pelanggan fixed. Forrester Research malah mengklaim bahwa operator fixed berisiko kehilangan antara 20%-25% pendapatannya karena diambil operator mobile.
Sebagian besar pelanggan malah telah menggunakan, baik telepon selular maupun broadband access untuk berbagai komunikasi sehari-hari. Pilihan teknologi aksesnya pun bermacam-macam, terutama dengan berkembangnya teknologi radio alternatif, selain teknologi selular. Ke depan, kebutuhan komunikasi semakin bervariasi, dimana komunikasi data dan multimedia cenderung meningkat, dan komunikasi suara menurun, meski secara total kebutuhannya bertambah besar dan meningkatkan pendapatan operator.
Fragmentasi Layanan
Menurut Gufron Mahmud, General Manager 3G Business Development, PT Siemens Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan komunikasinya pelanggan saat ini menggunakan bermacam-macam jaringan; di rumah menggunakan jaringan PSTN (fixed network), di luar rumah atau di jalanan menggunakan jaringan bergerak (mobile network), sedang di kantor menggunakan VPN atau jaringan WAN (enterprise network). Belum lagi, perangkat komunikasi yang digunakan dan pengalaman berkomunikasinya pun sangat terfragmentasi. Tak heran, kalau konsumen mulai berharap mendapatkan berbagai layanan dan aplikasi yang hampir sama cukup dengan menggunakan user interface yang lebih umum, tak peduli berbasis jaringan selular, tetap maupun teknologi radio. Tuntutannya jelas, konvergensi.
Belakangan, teknologi-teknologi generasi baru, yang mendukung pengembangan berbagai jenis jaringan, memungkinkan para operator menerapkan strategi Fixed-Mobile Convergence (FMC) atau Fixed-Mobile Substitution (FMS). Tantangan ini dihadapi, baik oleh operator fixed, mobile maupun perpaduan fixed dan mobile. Kalau FMC lebih dipicu oleh operator telepon tetap sebagai strategi bertahan menghadapi mobile, maka sebaliknya FMS dipicu oleh operator mobile. Keduanya, baik fixed maupun mobile, dapat juga menjadi pemicu FMC, terutama untuk memunculkan diferensiasi.
Dengan begitu, berbagai kemajuan teknologi masa kini, baik operator maupun perusahaan, semakin dituntut untuk lebih meningkatkan fokus perhatiannya pada bagaimana secara optimal menyediakan berbagai layanan dan aplikasi yang dibutuhkan, daripada fokus pada berbagai macam teknologi aksesnya.
Karena, ke depan, akan semakin terbuka peluang yang lebih besar untuk mengintegrasikan teknologi LAN nirkabel dengan jaringan pita lebar (broadband) dan selular. Tantangan terbesar akan datang dari apa yang disebut dengan IP Multimedia Subsystem (IMS). IMS merupakan suatu platform yang memungkinkan operator lebih berkonsentrasi meluncurkan aplikasi atau layanan daripada teknologi-teknologi akses vertikal. Hal itu, jelas akan semakin menghilangkan hambatan-hambatan antara jaringan fixed dan mobile, sehingga konvergensi layanan lebih mungkin disediakan.
Janji FMC
Menurut Jennifer Fruehauf, manajer riset F&S ICT, FMC merupakan tren yang bersifat gradual, namun akan sangat berpengaruh. FMC, yang mengintegrasikan teknologi dan layanan fixed dengan mobile menuju suatu jaringan telekomunikasi tunggal, telah mendorong ketertarikan banyak kalangan di industri telekomunikasi, terutama karena:
- FMC dapat mengatasi hambatan-hambatan fisik yang saat ini tidak memungkinkan operator menjangkau semua pelanggan potensialnya dengan semua jenis layanan.
- FMC memungkinkan para penyedia layanan fixed tak lagi dipaksa untuk menggelar jaringan kabel, karena operator mobile mampu mengatasinya.
- FMC memungkinkan para operator menyediakan berbagai layanan, bahkan yang personalized, tanpa tergantung lokasi, teknologi akses, perangkat yang digunakan dan tersedia kapan saja.
- Penyedia layanan Voice over IP (VoIP) memasuki pasar dengan strategi harga yang sangat murah, dan FMC memungkinkan operator menyediakan berbagai macam layanan, baik bagi pelanggan fixed maupun mobile, agar bisa bersaing.
- FMC membantu operator meningkatkan loyalitas pelanggan, mengurangi biaya kapital dan operasional, serta mencarikan sumber-sumber pendapatan baru sebagai ganti kehilangan pendapatan operator dari jaringan fixed.
- Pendapatan operator fixed cenderung terus menurun dari tahun ke tahun, dan FMC berpotensi mengembalikannya.
Kondisi lain yang mungkin kurang diperhitungkan selama ini, baik ketika operator fixed maupun mobile saling bersaing ketat dalam pangsa pasar dan sumber pendapatan yang sama, justru hal itu memunculkan tekanan terhadap ARPU (Average Revenue Per User). Dengan kata lain, ARPU layanan suara tidak meningkat. Di sisi lain, pengaruh substitusi telepon tetap-bergerak (fixed mobile substitution) akan semakin menjadi-jadi, terutama dengan berkembangnya sejumlah tren lainnya:
- Perkembangan VoIP yang sangat cepat akan meningkatkan trafik dari jaringan TDM (time-division-multiplexed) ke IP.
- Biaya layanan komunikasi suara akan mengalami penurunan.
- Pasar layanan-layanan TDM akan semakin matang.
Dalam kondisi semacam itu, FMC justru memberi peluang bagi kalangan operator untuk mengambil kembali trafik komunikasi bergerak masuk ke jaringan tetap dengan menyediakan berbagai layanan konvergen yang lebih menarik.
Perhatian Serius
Meski penerapan FMC diperkirakan akan meningkatkan pendapatan operator hingga 15% (2009), namun hal itu tak mudah direalisasikan. Awalnya, FMC akan lebih didorong oleh operator fixed, terutama karena pendapatan mereka dari layanan suara, mulai secara signifikan digerogoti oleh jaringan bergerak.
Selain itu, operator-operator yang memiliki keduanya, baik fixed maupun mobile, pada saat yang sama, mengalami kondisi yang tak mudah. Karena yang dihadapi lebih pada terjadinya substitusi antara tetap dan bergerak, padahal yang mestinya dikembangkan adalah bagaimana meningkatkan pangsa pasar yang dituju, bukan sebaliknya berkutat pada pasar yang stagnan.
Untuk itu, diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dalam meyakinkan pengelola layanan mobile tentang ketakutan mereka bahwa FMC akan mematikan “si ayam mobile yang menelurkan telur emas”. Memang, janji-janji FMC sangat menarik, tetapi masih panjang jalan untuk mencapai ke sana. Bagi operator yang memiliki baik layanan fixed dan mobile, masih dierlukannya dukungan organisasi internal dan koordinasi yang lebih baik, serta memilih mitra yang tepat di masa datang dan target yang jelas.
Sementara itu, tantangan lain yang tak kalah seriusnya adalah ketika operator tetap berpindah ke jaringan dan layanan yang sepenuh berbasis IP (Internet Protocol). Karena, hal itu akan semakin menantang operator untuk mampu menghadirkan layanan-layanan yang sangat inovatif, yang mendorong kebutuhan pengguna.
FMC di Asia
Di Asia, tampaknya FMC sudah dimulai, khususnya setelah NTT DoCoMO dan NTT Corp mengumumkan bahwa keduanya akan mengembangkan berbagai solusi konvergen. Hal itu, setidaknya mengikuti aliansi Fixed-Mobile antara operator-operator fixed dominan dunia, seperti BT, Telstra, dan Korea Telecom. Banyak kalangan memperkirakan bahwa strategi FMC akan menjadi tren terkuat di industri telekomunikasi dunia dalam tiga tahun ke depan.
Dan, jika hal itu benar-benar terwujud, para pelanggan berharap mereka dapat menggunakan cukup satu handset untuk berkomunikasi, baik ketika berada di rumah, di jalan maupun di kantor. Dari hasil survei, diketahui bahwa layanan-layanan konvergen yang paling diharapkan adalah tekeponi, email, voice mail, SMS dan Instant Messaging (IM). Tetapi, sayangnya, mereka tak mau membayar harga premium, dan ini merupakan tantangan berat yang harus dihadapi operator.
Tren FMC ke depan
- Di negara-negara maju, dengan penetrasi fixed dan mobile yang tinggi, operator fixed incumbent akan menjadi pendorong konvergensi.
- Substitusi Mobile mempengaruhi pendapatan fixed. Data statistik menunjukkan bahwa 30% panggilan mobile justru terjadi di kantor dan rumah (tempat di mana tersedia jaringan tetap). Solusi konvergen justru dapat mengembalikan hal itu ke jaringan fixed.
- VoIP diperkirakan akan juga mendorong perkembangan FMC. Platform IP konvergen di lingkungan enterprise dan meningkatnya broadband diperkirakan akan semakin memacu perkembangan VoIP.
- VoIP diperkirakan akan menjadi standar komunikasi suara di perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan IP-VPN.
- Dengan penetrasi telepon tetap yang rata-rata masih relatif rendah di kawasan Asia Pasifik, terutama dibandingkan Eropa yang telah mencapai 51%, penerapan FMC akan sedikit berbeda.
- Handset yang dilengkapi Bluetooth atau WiFi diperkirakan akan menjadi perangkat ideal bagi keberhasilan FMC.
Smartphone Pengganti Laptop
- Posted: Monday, January 23, 2006
- |
- Author: pradhana
- |
- Filed under: My Column
"Sekarang saya tidak lagi membawa-bawa laptop, karena smartphone yang saya miliki sekarang ini sudah sangat canggih.”
David Kelley
David Kelley, pendiri perusahaan desain Ideo dan profesor di Institute of Design, Stanford University, Amerika Serikat, memang tak tengah bercanda, tapi itulah kenyataannya. Saat ini, smartphone telah memiliki berbagai kecanggihan dan keunggulan yang memungkinkan Anda melakukan apa yang sering Anda lakukan di laptop. Misalnya menerima atau mengirim e-mail, membuat laporan penjualan, menyiapkan presentasi bisnis, akses Internet atau Intranet, mendengar musik dan, bahkan, memotret dengan kamera megapiksel, dan sebagainya.
Selama bertahun-tahun, tren pembelian komputer desktop di kantor-kantor telah bergeser dan digantikan laptop. Bukan berarti desktop tak lagi dibutuhkan, namun karena pertimbangan kemudahan dan mobilitas, laptop semakin banyak dipilih. Deni, teman saya yang bekerja di salah satu perusahaan minyak, lebih banyak menggunakan laptop, baik di dalam maupun di luar kantor.
“Semua data dan berkas kerja saya sudah ada di laptop ini, jadi kalau saya harus tugas di luar kota, maka laptop inilah andalan saya. Urusan kirim-terima email, membuat laporan sampai membuat presentasi saya lakukan di laptop ini. Tapi kami tak membelinya, melainkan disewa dari satu perusahaan penyewa,” ujarnya.
Memang, hingga saat ini, yang namanya Laptop masih banyak digunakan, karena selain memiliki kelebihan, portabel, dan mudah dibawa-bawa ke mana saja dibutuhkan. Namun, harganya rata-rata di atas harga desktop. Belakangan, laptop semakin dilengkapi banyak kelebihan dan kapasitasnya pun cukup besar untuk menampung berbagai kebutuhan penggunanya, baik penyimpanan teks, audio maupun video. Kemampuannya terus meningkat, sehingga akses Internet dapat dilakukan dengan mudah dan cepat.
Di sisi lain, smartphone memiliki kemampuan yang lebih besar, mumpuni dan didukung tersedianya jaringan nirkabel kecepatan tinggi yang semakin banyak. Harganya pun semakin lebih terjangkau. Hal itu yang membuat smartphone semakin banyak digunakan, baik untuk keperluan komunikasi, akses Internet, kirim-terima email, bahkan menulis artikel dan membuat laporan. Mendengar musik dan mengambil gambar pun kini dapat dengan mudah dilakukan, karena kedua fasilitas itu umum tersedia di berbagai smartphone.
Belakangan, smartphone semakin menarik diterapkan di lingkungan perusahaan, karena sangat mendukung keperluan mobilitas karyawan dalam bekerja. Biaya penyediaannya pun relatif lebih murah. Kalau untuk membeli laptop perusahaan harus mengeluarkan biaya antara US$1.000–US$2.000, maka untuk smartphone antara US$300-US$500, meski ada juga yang mencapai US$ 700-US$800. Yang menarik, dengan smartphone pengguna sekaligus memiliki perangkat setara laptop dan sekaligus ponsel, sehingga otomatis akan mengurangi biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk pembelian ponsel, selain laptop.
Meski ada beberapa hal yang tak mudah dilakukan di smartphone dibandingkan dengan di laptop, namun smartphone memiliki banyak kelebihan lain. Untuk penggunaan khusus diperlukan beragam jenis perangkat genggam (handheld), yang memang dirancang memiliki fungsi dan fitur tertentu yang dibutuhkan, misalnya oleh perusahaan-perusahaan logistik.
Hanya saja, salah satu pertimbangan penting dalam menggunakan smartphone di perusahaan adalah masalah sekuritinya. Dukungan fitur-fitur sekuritinya sedikit lebih rendah dibandingkan laptop, karenanya masih diperlukan dukungan sistem sekuriti yang lebih baik lagi dari perusahaan, utamanya kalau akan menggunakan smartphone sebagai salah satu perangkat akses ke jaringan perusahaan.
Sekarang ini, kemajuan teknologi berjalan sangat cepat dan ponsel merupakan perangkat portabel yang lebih pintar, lebih kecil dan lebih cepat, sehingga memungkinkan penggunanya terkoneksi dengan kecepatan tinggi ke Internet. Pertanyaannya, apakah smartphone akan benar-benar menggantikan laptop?
Sebenarnya, hal itu sudah terjadi. Kini semakin banyak saja orang yang menggunakan smartphone, dan tidak lagi tergantung dengan laptop. Selain lebih mudah dibawa-bawa, smartphone memiliki dukungan aplikasi yang dulunya lebih banyak tersedia di komputer atau laptop. Akses Internet mudah dilakukan, karena didukung akses nirkabel kecepatan tinggi, yang bisa ditemui baik di kantor, lobi hotel, kafe, bandara dan lainnya. Selain itu, smartphone hanya mengonsumsi seperseratus daya listrik yang digunakan komputer PC.
Kini, jumlahnya semakin banyak. “Suatu hari, saya perkirakan akan ada 2 sampai 3 miliar orang di dunia yang akan menggunakan ponsel dalam kehidupan mereka sehari-hari, tetapi mereka tidak memiliki PC di rumah,” ujar Jeff Hawkins, penemu Palm Pilot dan chief technology officer, PalmOne. "Ponsel akan semakin menjadi bagian dari kehidupan digital mereka." Belakangan, Gartner memprediksi bahwa pada tahun 2009 tak kurang dari 2,9 miliar ponsel akan digunakan di dunia.
Meski tidak semua ponsel terkategori smartphone, namun saat ini, tak kurang dari 1,5 miliar ponsel telah digunakan di dunia, berarti tiga kali lebih banyak dibandingkan PC. Pasar smartphone memang masih sekitar 5 persen, namun menurut Gartner, pertumbuhannya terus melejit.
Berdasarkan penelitian Strategy Analytics, pada 2004 penjualan smartphone mencapai 17,5 juta unit, atau naik 8,2 juta unit pada 2003. Itu berarti hanya 3% dari total penjualan ponsel dunia yang mencapai 684 juta unit. Permintaannya terus meningkat, dimana pada 2009 diperkirakan akan mencapai 250 juta, atau 24% dari total penjualan ponsel dunia yang mencapai lebih dari 1 miliar unit.
“Yang membuat smartphone jauh lebih baik dibandingkan komputer atau laptop adalah bahwa ia merupakan perangkat yang paling sering dibawa ke mana-mana bersama pemiliknya, selalu tersedia dan selalu siap digunakan kapan saja dibutuhkan,” ujar Jeff Hackett, pimpinan firma hukum di Baltimore, yang baru saja mengganti laptop 80 pengacaranya dengan smartphone.
"Anda akan memiliki dukungan jaringan nirkabel kecepatan tinggi yang handal, yang setara dengan jaringan T1 di saku Anda. Itu akan segera terjadi,” tambah Hawkins. Lebih jauh Hawkins memperkirakan, meskipun komputer dan laptop tak sepenuhnya hilang, namun akan lebih banyak digunakan di belakang layar, misalnya di kantor atau di rumah. Sedang kalau bepergian, akan semakin banyak orang yang memerlukan smartphone yang lebih portabel dan berkemampuan lebih besar. Ketika dibutuhkan langsung tersedia, dan tak perlu harus memboot seperti menggunakan laptop.
Sebagian malah dilengkapi kamera digital megapiksel, yang semakin melengkapi kemampuannya dibandingkan laptop. Selain sebagai perangkat komunikasi, juga sebagai komputer, yang lebih murah, kecil dan ringan, sehingga memberikan keunggulan tersendiri dibandingkan laptop.
Belakangan, smartphone malah sudah dilengkapi microdrive, yang memungkinkan penggunanya tak hanya memiliki kapasitas memori ukuran megabytes, melainkan gigabytes. Salah satu alasan utama orang menggunakan laptop adalah karena kapasitas penyimpanannya yang besar, jauh lebih besar jika dibandingkan smartphone. Karenanya, dukungan microdrive berkapasitas gigabytes plus flash memory akan semakin menguatkan fungsi smartphone.
Beberapa smartphone yang dapat dikomparasikan dengan laptop, antara lain Nokia Series 80 (Communicator) atau UIQ phones (Sony Ericsson, Siemens, Motorola). Smartphone ini memiliki prosesor yang cepat, cukup kapasitas RAM dan storage memory, serta berbagai aplikasi yang telah diinstal di dalamnya.
Pernahkan Anda bayangkan bahwa sebuah perusahaan teknologi tinggi mengganti laptopnya dengan komputer PC dan perangkat genggam pintar untuk kurang lebih 700 karyawannya. Alasannya, sang CEO bosan dengan segala kebutuhan biaya pembelian dan dukungan terhadap penggunaan laptop di perusahaannya. “Tapi, kini mereka justru lebih senang. Lihat saja, saya menyediakan sebuah laptop bagi setiap senior eksekutif di perusahaan ini, tapi umumnya mereka menggunakannya hanya untuk tiga aplikasi saja, yakni e-mail, browsing Internet dan Instant Messaging,” ujar sang CEO
Meski sekarang ini laptop masih banyak terjual, namun ke depan smartphone akan benar-benar menggantikan laptop, notebook dan sejenisnya, terutama karena smartphone memiliki tiga kapabilitas utama, yakni komunikasi, yang digabungkan dengan aplikasi komputer, dan konektivitas Internet. Namun, perhatikan angka ini. Kalau pengapalan laptop setiap tahunnya di seluruh dunia mencapai 60 juta, maka ponsel ternyata lebih dari 700 juta dan itu akan terus bertumbuh sangat cepat.
Di sisi lain, smartphone juga menarik minat kalangan pengguna korporat, terutama karena dapat digunakan untuk mengkases berbagai aplikasi korporat, seperti database dan peranti-lunak Customer Relationship Management (CRM).
Hasil survei Signorini menunjukkan bahwa penggunaan smartphone semakin meningkat, yakni 25% dari para pekerja bergerak yang disurvei. Dalam tiga tahun ke depan, diperkirakan akan meningkat menjadi 38%. Peningkatan itu justru terjadi di Asia Pasifik, yang mencapai 37% dari total penggunaan smartphone dunia, dengan Korea Selatan dan Jepang sebagai pengguna terbanyak.
Namun, para pengguna laptop banyak juga yang menyangkal hal itu. Hari ini, laptop umumnya telah didukung kemampuan berbasis Wi-Fi, sehingga memungkinkan mereka menggunakannya di berbagai tempat, baik di bandara, hotel, kafe dan sebagainya, yang telah menyediakan akses nirkabel (hotspot). Selain itu, penggunaan smartphone tidak praktis, karena bentuknya yang kecil. Sean Maloney, eksekutif VP Intel, menyatakan bahwa ratusan juta orang tak akan melupakan begitu saja pengalaman mereka dengan menggantikan layar, mouse dan kibor laptop mereka dengan layar dan kibor kecil yang dimiliki smartphone. Artinya, laptop masih cukup menarik digunakan. Tetapi, smartphone tak kalah menariknya.
Bagaimana dengan Anda, pilih laptop atau smartphone?
Yah, Siapa Tahu
- Posted: Friday, January 20, 2006
- |
- Author: pradhana
- |
- Filed under: My Column
Teknologi telekomunikasi 3G (3rd generation), belakangan semakin popular dan sering muncul di pemberitaan mass media, baik koran, majalah, radio maupun TV, negeri ini secara lebih intens. Pasalnya, pemerintah lagi getol-getolnya membenahi frekuensi 3G, yang dianggap akan menjadi layanan telekomunikasi masa depan. Bermodal 3G, pengguna bisa menikmati berbagai fitur terkini, seperti mendownload klip video, berselancar di Internet dengan akses lebih cepat dan berbagai aplikasi lainnya.
Konsekuensinya, terjadilah penggusuran terhadap operator-operator CDMA yang sebelumnya diizinkan berada di frekuensi peruntukan 3G itu. Penggusuran, pastinya menimbulkan kerugian di kalangan operator CDMA, baik itu investasi maupun pelanggan, yang selama ini telah menggunakan perangkat yang mengacu pada frekuensi tersebut. Contohnya Primasel, yang diperkirakan merugi hingga Rp300 miliar, karena operator ini sudah membangun infrastruktur telekomunikasi berbasis teknologi CDMA di Jawa Timur.
Belakangan, sebagai kelanjutan dari upaya “pembersihan itu”, pemerintah menetapkan bahwa proses perolehan frekuensi 3G dilakukan dengan sistem lelang. Ini pertamakalinya kalangan operator telekomunikasi diharuskan mengikuti lelang untuk memperoleh frekuensi. Meski sebelumnya, tidak demikian.
Saat ini, dua operator pendatang baru telah mengantongi lisensi 3G, yakni Natrindo Telepon Seluler (Lippo Telecom) dan Cyber Access Communications, yang merupakan warisan kebijakan pemerintah sebelumnya. Sementara, kalangan operator lama, seperti Telkom dan Indosat, termasuk Excel dan Telkomsel, yang notabena memiliki jutaan pelanggan, justru belum memiliki lisensi 3G. Karenanya, dalam lelang lisensi 3G, yang diperkirakan pemerintahan akan memperoleh sekitar Rp 4-5 triliun, ditetapkanlah standar harga tinggi dan lebih mendahulukan operator lama.
Peserta lelang juga harus sudah memiliki izin penyelenggaraan jaringan tetap lokal dan telah mengoperasikan jaringan tetap lokal tanpa kabel dengan mobilitas terbatas, atau izin penyelenggaraan jaringan lainnya yang telah memiliki izin penggunaan pita frekuensi radio 1.9 GHz. Dalam lelang ini, peserta lelang akan memperebutkan lisensi penyelenggaraan layanan 3G dengan cakupan nasional dengan rentang frekuensi 1940-1955 MHz dan 2130-2145 MHz. Operator pemenang tender juga diharuskan untuk segera merealisasikan lisensi 3G yang dimilikinya itu.
Diharapkan, hanya operator yang benar-benar serius saja yang akan memperoleh lisensi itu. Hingga kini, sudah ada empat operator besar yang siap mengikuti lelang tersebut, yakni PT Telkom Tbk, PT Indosat Tbk, PT Excelcomindo Pratama Tbk, dan PT Telkomsel. Meski pemerintah juga masih memberikan kesempatan kepada lima operator lainnya, yaitu Mobile-8, PT Bakrie Telecom (Esia), Primasel, Wireless Indonesia (Win), dan Mandara. Padahal, pemerintah hanya mengalokasikan frekuensi untuk maksimal tiga operator, dengan lebar pita sebesar 15 MHz.
Namun, dengan upaya dan investasi yang besar, dimulai dari perolehan lisensi 3G yang dibeli dengan biaya tinggi, kalangan operator juga menghadapi situasi yang tidak mudah. Layanan 3G, bagi operator GSM (Global System for Mobile Communication), memang tampaknya menjadi pilihan di masa datang. Hanya mengharapkan layanan yang sekarang, meski telah disuntik dengan GPRS dan EDGE, ternyata masih tidak memadai sebagai titik pertumbuhan pendapatan.
Karenanya, kalau 3G dianggap sebagai suatu lompatan, lompatan itu jelas membutuhkan perhatian yang sangat besar, baik terkait dengan investasi, konten yang menarik pengguna, dan harga layanan yang boleh jadi tidak murah. Hal yang sama, sebenarnya juga dihadapi operator CDMA (Code Division Multiple Access), meskipun untuk ke depannya masih bisa berekspansi ke CDMA 1x-EVDO dan EVDV, sebelum benar-benar masuk di 3G.
Masalah krusialnya, pastikah ketika layanan 3G tersedia, para pengguna akan berbondong-bondong menggunakannya? Atau, justru sebaliknya, masih betah menggunakan layanan 2-2,5G yang ada selama ini, terutama karena pertimbangan biaya? Lebih jauh, akankah muncul berbagai aplikasi baru yang sangat menarik, yang dianggap akan menjadi killer app di jalur 3G, setidaknya sebagaimana SMS sekarang ini?
Di sisi lain, tantangan juga muncul dari kubu WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access), yang sampai saat ini diyakini akan muncul dengan gebrakannya sendiri. Meski, kalangan vendor meyakini, bahwa keduanya – 3G dan WiMAX – memiliki pangsa pasar masing-masing dan tidak saling mengganggu, tampaknya hal itu masih perlu dibuktikan kebenarannya. Jangan-jangan, justru terjadi perang bubad. Yah, siapa tahu?
Idul Fitrie dan SMS
- Posted: Saturday, January 14, 2006
- |
- Author: pradhana
- |
- Filed under: My Column
Lebaran, yang diidentikkan dengan Hari Raya Idul Fitri, merupakan salah satu hari besar Islam yang signifikan keberadaannya, baik dalam dimensi spiritual sebagai bentuk hadirnya Hari Kemenangan setelah selama sebulan penuh menjalani perjuangan menahan harus dan lapar di bulan Ramadhan maupun dimensi personal dan sosial sebagai bentuk kesadaran penderitaan yang dialami kaum papa dan duafa, yang karena kondisi sosial dan ekonominya tak mampu memiliki kehidupan yang lebih menyenangkan dan layak.
Lebih dari itu, Lebaran sekaligus memadukan dimensi spiritual dan sosial yang diwujudkan dalam bentuk silaturrahmi dan saling bermaaf-maafan atas berbagai kesilafan dan kesalahan yang telah dilakukan selama setahun sebelumnya. Manifestasi lainnya dari rasa syukur dan kesadaran itu, pada saat yang sama, juga memberikan dorongan yang kuat untuk saling bertemu dengan keluarga, kerabat dan sahabat yang dimanifestasikan dalam bentuk “pulang kampung” alias “mudik”.
Kalau pulang kampung lebih sebagai bentuk manifestasi kerinduan dengan keluarga dan teman-teman lama, namun lebaran juga mendorong peningkatan silaturrahmi dengan banyak orang, baik teman sekampung, teman sekerja dan relasi serta kenalan lainnya. Semua ini tak mampu terjangkau bila dikunjungi satu per satu, sehingga berkirim kartu pos, surat, dan kini e-mail dan SMS/MMS menjadi sesuatu yang biasa dilakukan sebagai wujud kepedulian dan rasa syukur itu.
E-mail, SMS dan MMS merupakan cara komunikasi elektronik yang belakangan semakin banyak digunakan untuk menjaga tali silaturrahmi itu. Meski sebelumnya ada rasa kurang “afdol”, apalagi kalau berkirim SMS/MMS dengan orang yang dituakan di kampung misalnya, namun tahun-tahun belakangan ini hal itu sudah bisA diterima sebagai sesuatu yang wajar. Karena cara itu telah menjadi tools yang paling personal dan banyak digemari dalam keseharian, yang bukan lagi monopoli mereka-mereka yang tinggal di kota-kota besar, melainkan juga di kota-kota kecil di seluruh Indonesia.
Tak ayal, pada Lebaran tahun ini penggunaan SMS/MMS terus meningkat, karena semakin banyak orang yang memiliki dan menggunakan ponsel, serta penerimaan yang luas dari masyarakat terhadap jalinan tali silaturrahmi dapat dilakukan melalui ponsel.
Di sisi lain, operator penyelenggara telekomunikasi pun mengantisipasinya dengan berbagai kemudahan, sehingga para pengguna ponsel dapat menikmati layanan yang lebih baik, terutama dalam penyediaan kapasitas SMS yang besar. Ambil contoh, Indosat, yang sehari-hari, di luar hari Lebaran, kapasitas SMS-nya sudah 36 juta per hari, tahun 2005 ini meningkatkannya menjadi hingga 5 kali, yakni menjadi 4.800 per detik atau 172 juta per hari, dengan asumsi pemakaian 10 jam per hari.
Sementara Telkomsel, yang meningkatkan kapasitas SMS-nya dari 6.000 SMS/detik (64 juta SMS/hari) menjadi 8.000 SMS/detik atau berkemampuan melayani sekitar 600 juta SMS/hari. Peningkatan kapasitas ini untuk mengantisipasi kenaikan trafik yang diperkirakan paling tidak sama dengan tahun lalu, yakni melonjak 250% - 300% dari trafik SMS normal yang mencapai sekitar 200 juta SMS di hari ’H’ Idul Fitri 1426H.
Satu hal yang menarik adalah, meskipun pengiriman SMS/MMS terus meningkat sangat signifikan tahun ini, namun keinginan orang untuk mudik di hari lebaran ini tak juga surut. Kalau modus transportasinya dinilai mengalami perubahan dari yang satu ke yang lain, misalnya dari peningkatan di pesawat menjadi di kereta api, bus dan kendaraan bermotor, namun hal itu tetap menunjukkan peningkatan. Meskipun, secara diametral, banyak masyarakat yang mengeluhkan tingginya kenaikan harga BBM.
Tetapi, fenomena pulang kampung, yang terbukti tak juga kian surut meski katanya kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat semakin melemah, semakin sulit dicarikan konsistensi dan dan konsekuensinya. Padahal, pada saat yang sama, fenomena pengiriman SMS/MMS sebagai cara baru dalam menjalin tali silaturrahmi yang semakin bisa diterima masyarakat juga menunjukkan peningkatan yang boleh dibilang fantastis.
Tak hanya inkonsistensi dan kecenderungan mengabaikan nilai-nilai rasional yang lebih masuk akal, melainkan juga masih kentalnya dorongan emosional yang secara faktual mengalahkan berbagai hitung-hitungan rasional. Namun, dalam pengabaian nilai-nilai seperti itu, masihkah kita layak mengatakan bahwa kondisi ekonomi kita sulit, daya beli masyarakat semakin melemah, pencabutan subsidi BBM memiskinkan masyarakat, sementara kita sendiri pun sesungguhnya tak memberi kepedulian yang sepenuh hati atas masalah tersebut. Meskipun, pada saat yang sama, ada tools baru yang lebih efisien – SMS/MMS.
Bersaing di ranah Digital Home
- Posted: Monday, December 12, 2005
- |
- Author: pradhana
- |
- Filed under: My Column
Persaingan di lahan “Digital Home” tampaknya akan semakin marak, dimana perangkat keras dan peranti lunak akan saling adu keunggulan. Intel dan Microsoft diperkirakan akan menjadi pemain utamanya.
Pasar “Digital Home” atau “Connected Home” diperkirakan siap-siap meledak, dan jika itu terjadi, maka perusahaan yang akan akan menjadi pemain terbesarnya adalah Intel dan Microsoft. Intel tampaknya akan menjadi perusahaan yang paling berpengaruh, terutama karena untuk kepentingan Digital Home ini, Intel berperan mendorong bagaimana industri komputer, perangkat elektronik konsumen dan komunikasi untuk menyatu.
Mengapa demikian? Karena, nantinya, ketiga jenis perangkat itu akan muncul hanya dalam satu perangkat, yakni Media Server yang akan menjadi pusat dari berbagai “kemampuan” yang selama ini ada di masing-masing perangkat secara mandiri. Teknologi yang dikembangkan Intel dalam beberapa perangkat keras komputer dan keunggulan peranti lunak Microsoft akan berperan banyak dalam perkembangan ini.
Kumpulan lagu-lagu yang selama ini disimpan dalam pita kaset, CD atau DVD misalnya, nantinya dapat disimpan dalam bentuk file digital di hard disk atau server. Karena ukuran file digital yang relatif sangat kecil, maka akan mungkin menyimpan ribuan lagu, gambar atau foto, ratusan film/video hanya dalam satu server yang berkapasitas puluhan atau ratusan gigabyte (GB).
Selain itu, kemudahan menyimpan dan mengelolanya memungkinkan kemudahan dalam mengakses dan memainkannya. Yang menarik, bukan itu saja, memainkannya pun dapat dilakukan di berbagai perangkat elektronik lainnya, misalnya PC, laptop, TV atau perangkat khusus lainnya, di mana dan kapan saja diinginkan, bahkan secara bersamaan di ruang yang berbeda.
Dengan begitu, berbagai perangkat elektronik yang selama ini ada, yang secara khusus hanya dapat melakukan sejumlah fungsi tertentu, misalnya tape recorder untuk merekam dan memainkan lagu yang di simpan dalam kaset, baik portabel ( walkman ) atau non-portabel ( tape deck ), nantinya tak dibutuhkan lagi. Bahkan, dewasa ini telah muncul perangkat “connected” yang menggunakan suatu server yang dapat menyimpan ribuan lagu digital yang dapat dimainkan melalui suatu “player” berbentuk kotak yang dapat diakses secara jarak jauh dan nirkabel.
Beralih ke Media Server
Dengan satu perangkat yang terdiri dari sebuah server, yang dilengkapi sebuah “kotak pintar” dan sepasang speaker serta remote control , Anda sudah dapat menikmati ribuan lagu dengan mudah di mana pun Anda inginkan di dalam rumah. Artinya, Anda tak perlu lagi memiliki tape recorder , CD/DVD player konvensional secara terpisah, melainkan cukup sebuah kotak pintar dan sepasang speaker yang terhubunga ke sebuah Media Server itu saja.
Menariknya, hanya dengan satu server Anda dapat menambah (kotak+speaker) untuk ditempatkan di puluhan ruangan, dan Anda pun sudah dapat mendengar musik di masing-masing ruangan dengan lagu kesukaan masing-masing pada saat yang bersamaan.
Di sisi lain, dengan menggunakan peranti lunak Windows Media Player, WinAmp dan lainnya, Anda pun kini dapat memutar lagu di laptop atau komputer PC. Jika Anda menggunakan jaringan nirkabel, misalnya Wi-Fi, maka Anda pun dapat memutar lagu kapan saja dan di mana saja di dalam lingkungan rumah melalui laptop Anda. Bahkan, dapat juga melalui smartphone atau PDA phone Anda, kalau ponsel Anda sudah dilengkapi koneksi Wi-Fi atau men download nya ke ponsel menggunakan Bluetooth, infrared atau kabel.
Saat ini, bahkan sudah muncul berbagai perangkat elektronik konsumen lainnya, seperti refrigerator, TV, pemanggang roti dan lainnya yang “bisa saling berkomunikasi” satu sama lain, karena terhubung dalam suatu jaringan, malah berbasis nirkabel. Koneksi nirkabel ini, tampaknya, akan semakin mendominasi penggunaannya, terutama di rumah. Selain karena mudah, juga tidak dirumitkan dengan jaringan kabel yang sulit kalau perangkat yang digunakan akan dipindah-pindahkan. Dengan koneksi nirkabel, hal itu akan dapat dilakukan dengan lebih mudah, kapan saja diinginkan dan fleksibel.
Begitu juga dengan berbagai perangkat elektronik lainnya, seperti komputer PC, laptop, printer, scanner, copier dan lain sebagainya kini sudah banyak yang dapat dikoneksikan ke dalam suatu jaringan, baik berbasis kabel maupun nirkabel. Tren penggunaannya tak hanya di kantor-kantor besar di gedung-gedung, melainkan juga di rumah, misalnya SOHO ( Small Office Home Office ), yang di Indonesia hal ini juga sudah semakin berkembang.
Selain itu, muncul kecenderungan penggunaan berbagai perangkat yang bersifat multi-fungsi, misalnya printer, scanner, copier dan faks telah menyatu dalam satu mesin, yang bukan saja menjadi lebih sederhana dan mudah, juga fleksibel dan kompetitif. Yang dahulunya diperlukan empat mesin yang terpisah, kini cukup hanya dengan satu mesin, sehingga sangat efisien dan menghemat tempat.
Connected Home
Munculnya berbagai perangkat digital yang dapat dikoneksikan satu sama lain secara mudah, terutama secara nirkabel ke dalam suatu jaringan W-LAN (wireless local area network), memunculkan kecenderungan baru, yang tidak saja terkait dengan berbagai perangkat kerja, melainkan juga hiburan. Tak pelak, kini semakin banyak bermunculan berbagai jenis monitor yang mampu berfungsi ganda, baik sebagai monitor komputer maupun sebagai layar TV yang dapat digunakan untuk bekerja dan menonton film atau video, juga bermain games .
Menyatunya (dalam koneksi jaringan virtual) berbagai perangkat elektronik digital, baik dalam koneksi dan fungsi, yang kemudian mendorong munculnya konsep “Connected Home” atau juga “Digital Home”. Meski tak ada satu konsep tunggal, melainkan berbeda-beda, namun secara prinsipil yang dimaksud dengan Connected Home, adalah bagaimana berbagai perangkat elektronik digital yang berbeda-berbeda itu, kini dapat disatukan dalam koneksi jaringan virtual (nirkabel), sehingga satu sama lain dapat berkomunikasi.
Selain itu, dengan tersedianya berbagai konten digital, akan semakin memudahkan mengoptimalkan koneksi itu, karena konten digital yang berbeda-beda, misalnya musik, gambar, video dan informasi lainnya dan dapat diakses oleh beragam perangkat. Mendengar musik bisa di komputer, laptop, ponsel atau di player tertentu. Begitu juga menampilkan image atau foto misalnya, juga memutar video, dapat dilakukan di berbagai perangkat elektronik digital lainnya.
Itulah mengapa, baik Intel maupun Microsoft, dipandang akan menjadi pemain utama dalam revolusi ini. Karena, kedua perusahaan ini termasuk yang paling banyak mengambil inisiatif memunculkan integrasi atau menyatukan berbagai industri ke dalam satu tujuan “bersama” dalam menghadapi pemenuhan kebutuhan konsumen, baik dalam konteks meningkatkan kinerja dalam bekerja maupun menikmati hiburan dan, bahkan, bermain games .
Namun, perkembangan itu berdampak lebih luas. “Hal itu bukan hanya merupakan suatu revolusi dalam berbagai industri, melainkan menciptakan suatu industri baru yang lebih fokus pada peluang pertumbuhan dalam digital home ,” ujar Louis Burns, Intel vice-president dan general manager , Desktop Platforms Group (DPG).
Karena peluang pertumbuhan yang sangat besar berada di dalam industri baru ini, maka menurut Burns, yang menjadi tantangan besar saat ini adalah bagaimana membangun suatu unified platform dan ekosistem lingkungan yang mendukungnya.
Bukan saja kita semakin membutuhkan satu PC dalam setiap rumah, sebagaimana pernah dicita-citakan oleh Bill Gates, bos Microsoft, melainkan lebih dari itu, yakni kita sesungguhnya menginginkan musik, video dan foto kemanapun kita pergi. Karenanya, apa yang dikembangkan Microsoft melalui Windows Media Player 10 bukan saja berarti suatu pembaruan terhadap software player , yang sebelumnya banyak digunakan di PC, tetapi lebih jauh dari itu.
Dengan diluncurkannya versi baru Media Center 2005, hal itu kini menjadi titik pusat strategi baru yang mencakup musik-musik yang secara legal di download dari Internet, juga termasuk rekaman TV, rekaman DVD, video di saku (PDA) dan musik di ponsel Anda. Nantinya, bahkan menjadi Media di mana saja.
Tantangan ke depan yang diperkirakan akan menjadi lahan persaingan baru mulai dari sekarang ini adalah, bagaimana menyediakan kebutuhan konsumen, yang setidaknya bisa dilihat dari tiga kriteria penting, yakni bagaimana hal itu mampu menjawab keinginan untuk mendapatkan konten digital di mana saja, kapan saja dan menggunakan perangkat apa saja.
Tiga Kriteria
Tiga kriteri yang menjadi titik perhatian industri dalam memenuhi kebutuhan itu, adalah:
Pertama , perangkat elektronik yang diproduksi harus mampu digunakan langsung begitu dikeluarkan dari kotak, tak perlu menginstal ini-itu, dan mudah digunakan, baik menghidupkan atau mematikan, mengoperasikan maupun mengakses. Karena, konsumen tak ingin menjadi ahli TI, tetapi ingin menggunakan suatu perangkat yang canggih dengan mudah dan memiliki fungsi yang beragam, yang semua itu berbasis digital dan TI.
Kedua , perangkat digital home , apapun jenisnya, harus mampu dengan mudah dan mulus terkoneksi dan berkomunikasi secara nirkabel. Termasuk, misalnya, kemampuan untuk menghentikan sementara ( pause ) pemutaran sebuah film yang ditonton melalui PC di kamar tamu dan memberikan ringkasan ceritanya di PC lain yang terdapat di kamar tidur.
Ketiga , mungkin merupakan yang terpenting, bahwa perangkat tersebut harus mampu menyediakan konten audio maupun video yang bermutu tinggi. Jadi, yang utama adalah bagaimana konsumen dapat mengakses konten kapan saja, di mana saja dan menggunakan perangkat apa saja yang dinginkan, baik untuk menikmati hiburan, belajar, produktivitas personal maupun keperluan komunikasi secara mudah dan bermutu tinggi.
Unified Platform
Intel dikenal sangat unggul dalam pembuatan chipset yang mendukung, dan sekaligus memunculkan berbagai konsep rancangan yang disebut unified platforms untuk keperluan digital home ini.
Misalnya saja, “Entertainment PC” sangat tipis yang dibangun menggunakan platform Prescott dan Grantsdale. PC ini menggunakan Windows XP Media Centre Edition dari Microsoft dan terhubung ke sebuah TV. Selain perangkatnya harus mampu digunakan untuk berbagi konten, ia juga harus dirancang untuk digunakan dengan remote control , dan bukannya keyboard . Nah, platform Kessler ini berhasil menyederhanakan digital home dengan mengintegrasikan semua perangkat yang berbeda-beda ke dalam satu unit tunggal.
Perkembangan inilah yang tampaknya akan semakin mewarnai industri baru “digital home” dimana produk-produk yang diproduksinya akan semakin mempengaruhi tren penggunaannya di jutaan rumah di seluiruh dunia mulai saat ini ke depan. Insa
Perlu pikiran lebih jernih
- Posted: Sunday, December 11, 2005
- |
- Author: pradhana
- |
- Filed under: My Column
Persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia terbukti tak hanya masalah ekonomi, seperti nilai tukar rupiah terhadap dolar yang tinggi, industri yang semakin terpuruk, dan berbagai kendala pertumbuhan ekonomi. Tak juga hanya masalah politik yang bernama demokrasi, yang kemudian membuat setiap orang seperti memiliki hak untuk teriak dan melakukan protes, sementara pada saat yang sama dia lupa bahwa orang lain juga memiliki hak yang sama. Tak juga hanya masalah korupsi yang kian merajalela di hampir semua lini birokrasi dan kehidupan bangsa, yang tidak lagi memunculkan rasa malu karena telah “menghianati” anak-anak bangsa sendiri.
Indonesia mengalami degradasi yang parah, yang bersifat multidimensional. Setiap orang ingin terkenal, tetapi tak mau bersusah payah meraihnya dengan benar. Setiap orang ingin kaya dan terhormat, tetapi ingin meraihnya secara gampang, instan dan tak peduli apapun caranya. Korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan sejenisnya telah menjadi cara yang dianggap “wajar” dan “syah” untuk dilakukan. Semua ini menjadi kabut yang sangat pekat yang menyelimuti bangsa ini. Bencana demi bencana, berbagai musibah yang menimpa bangsa ini, dari tsunami, banjir, tanah longsor, merebaknya berbagai penyakit, sepertinya tak lagi menggetarkan jiwa banyak orang. Dan perilaku yang tidak benar itu pun sepertinya mengalir terus, tanpa tahu kapan akan berhenti dan siapa yang akan menghentikannya.
Dalam kondisi seperti itu, mungkin sangatlah naif, kalau kita masih berbicara mengenai penerapan teknologi informasi (TI) atau ICT, yang saat ini masih dikenali atau difahami oleh segelintir orang saja di negeri ini. Namun, apakah kenaifan itu yang akan terus kita bawa? Padahal bangsa ini tengah mengalami masalah yang sangat berat. Atau, akankah kita terus-menerus meneriakkan manfaat ICT bagi bangsa ini, tanpa upaya konkrit yang secara langsung bisa dirasakan oleh masyarakat?
Sebaliknya, apakah benar kalau kita berkomitmen menerapkannya di lingkungan birokrasi pemerintahan atau di mana saja dalam kehidupan masyarakat, hal itu akan berjalan sesuai dengan yang direncanakan sehingga memberikan hasil sebagaimana diharapkan? Pertanyaan ini, mungkin masih akan terus muncul, meskipun kita menyadari bahwa banyak negara di dunia yang telah berhasil mengambil manfaat dari perkembangan dan kemajuan ICT tersebut.
Hanya saja, mentalitas dan visi dalam melihat bagaimana kemajuan ICT dapat memberi manfaat yang optimal bagi kemajuan bangsa ini, memang masih menyisakan tanda tanya besar. Masih diperlukan upaya yang sungguh-sungguh untuk bisa berpikir jernih dan “kemauan” yang sungguh-sungguh untuk membangun bangsa ini.
Masalahnya, mungkin, tidak dengan ungkapan dan rencana yang muluk-muluk atau konsepsi yang besar-besar. Yang justru sangat diperlukan adalah kejernihan melihat masalahnya dari berbagai aspek, tak hanya ICT, tetapi juga lingkungan dan budaya masyarakat. ICT tak berdiri sendiri sebagai suatu solusi, melainkan ia akan menjadi bagian dari suatu sistem yang lebih besar, yang jauh lebih rumit.
ICT, memang, bukan segala-galanya, namun ICT bisa menjadi pendorong bagi perkembangan dan kemajuan bangsa ini, dan itu, hanya dan hanya jika, petinggi bangsa ini dan seluruh masyarakat menyadari arah perjalanan yang akan dituju. Visi bangsa yang jelas, dan langkah kecil yang diambilnya saat ini akan berdampak besar ke masa yang akan datang.
Ungkapan Aa Gym yang menyatakan “ Mulailah dari yang kecil, Lakukanlah dari saat ini, dan Mulailah dari diri sendiri” mungkin tepat diperhatikan dan diterapkan. Akan sangat sulit menghadapi masalah yang besar, kalau masalah yang kecil, yang ada di sekitar diri sendiri saja, tak mampu diatasi. Namun, lebih dari itu, yang justru diperlukan adalah suatu langkah konkrit yang menjadi visi bangsa ini ke depan. Hal itu harus dilakukan meskipun hal itu dimulai dari langkah-langkah kecil. Tentu, seberapa besar “langkah kecil” itu akan sangat tergantung pada siapa yang melakukannya? Kalau diri sendiri, mungkin sangat kecil, namun kalau negara yang melakukannya, maka itu akan menjadi “langkah kecil” yang besar, karena dia mencakup kepentingan bangsa.
Karenanya, saat ini, kita sangat membutuhkan suatu visi yang jelas, tak hanya dari pemerintah, lembaga-lembaga negara, universitas dan lembaga-lembaga lainnya, maupun masyarakat. Visi itulah yang sesungguhnya akan membimbing bangsa ini menuju ke masa depan. Kejelasan visi itulah yang kemudian akan semakin jelas menempatkan di mana ICT bisa berperan besar dalam upaya mewujudkan visi itu menjadi kenyataan di negeri ini. Bukan sebaliknya, ICT dilihat secara berlebih-lebihan atau segala-galanya bagi bangsa ini, yang kemudian hal itu akan lebih dilihat sebagai “pelaksanaan sebuah proyek”, yang akan menguntungkan siapa, dan bukan sebagai suatu solusi yang strategis bagi kemajuan bangsa ini hari ini dan di masa depan.
Kecuali, kalau kita memang tidak ingin bangsa ini maju sebagaimana bangsa lain di dunia mencapai kemajuan yang pesat saat ini. Wallahu alam.
Refleksi
- Posted: Saturday, November 12, 2005
- |
- Author: pradhana
- |
- Filed under: My Column
Perjalanan bangsa ini di dunia jasa dan teknologi informasi dan komunikasi dunia, tampaknya masih akan sangat jauh dan berliku-liku. Capaian-capaian yang telah berhasil diraih sejumlah negara tetangga terdekat Indonesia, seperti Malaysia dan Singapura, tak cukup menjadi “pembuka mata”, yang memberi semangat kuat untuk mengembangkannya di sini. Bangkitnya sejumlah negara lain yang masih dalam lingkup kawasan ASEAN, seperti Filipina, Thailand, dan bahkan terakhir Vietnam, yang mulai tampak mencuat belakangan ini, belum juga menjadi pemikiran yang sungguh-sungguh penyelenggara negara bangsa ini.
Dari berbagai pertemuan, baik sengaja maupun tidak, saya mendapat kesan yang kuat mengenai perlunya kita, sebagai bangsa, membangun suatu kerangka yang utuh dan jelas sebagai suatu visi masa depan bangsa. Hal itu, sekaligus merupakan suatu “harapan” yang besar agar penyelenggara Negara yang baru, hasil Pemilu 2004, didukung oleh berbagai unsur, baik pakar, universitas, dan juga praktisi ICT negeri ini untuk segera membuat langkah-langkah konkrit dalam menyikapi hal itu.
Lepas dari ribut-ribut untuk membangun departemen sendiri, sebagai perluasan peran Kominfo selama ini, namun di sisi lain, pemerintah mestinya menyikapinya dengan sungguh-sungguh dan tak hanya melihatnya dalam konteks satu masa suatu pemerintahan berjalan, yang hanya lima tahun. Melainkan, lebih dari itu.
Saya ingin mengambil contoh bagaimana Malaysia meraih titik keunggulan, khususnya dalam konteks pengembangan ICT (Information & Communication Technology). Meskipun, saya percaya, pengambilan contoh ini tidak terlalu ideal, namun apa yang berhasil diraih Malaysia, cukup signifikan. Kalaupun Indonesia akan membangun sesuai dengan visinya sendiri, namun bagaimana upaya Malaysia meraih keunggulan, mestinya bisa juga menjadi pelajaran penting. Bagaimana ide dan visi yang jelas kemudian direalisasikan secara sungguh-sungguh tahap demi tahap, hingga berbuah hasil.
Dalam era pemerintahan Dr Mahathir Mohammad, Malaysia berhasil merumuskan apa yang mereka sebut sebagai “Vision 2020”, yang menggambarkan bagaimana Malaysia di tahun 2020 dan titik keunggulan apa yang akan dimiliki negeri itu di tahun itu, yang kemudian dirunut ke belakang apa-apa yang seharusnya dilakukan sejak dirumuskannya visi itu ke depan. Hal yang sama juga sebenarnya dilakukan India, sekitar 40 tahun yang lalu. Hari ini, 15 tahun sebelum 2020, tak perlu diragukan lagi bahwa Malaysia telah banyak meraih keberhasilan, terutama dengan berkembangnya suatu proyek prestisius – Multimedia Super Corridor (MSC), yang dibangun pada 1997.
MSC, suatu kawasan ICT terbatas, menempati lahan seluas 15x50 kilometer persegi yang membentang antara Kuala Lumpur City Centre Towers (KLCC) dan Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Kawasan itu dimaksudkan sebagai tempat terjadinya interaksi antara pemerintah, pelaku industri, dan institusi pendidikan (SDM), sehingga membentuk suatu kawasan unggulan ICT.
Pada saat yang sama, berbasis Vision 2020, Malaysia membangun National Information Technology Agenda (NITA), yang berperan mendukung pengembangan suatu masyarakat dan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based society). Guna mendukung arah pemberdayaan pengetahuan tersebut dibangunlah National Information Technology Council (NITC). Lembaga ini berperan penting sebagai konsultasi atau penasihat bagi pemerintah dalam pemanfaatan ICT untuk kepentingan pembangunan nasional.
Pembangunan MSC sendiri sepenuhnya dikelola oleh suatu institusi non-departemen, yakni Multimedia Development Corporation Sdn. Bhd (MDC), yang terbukti memberi banyak kemudahan dan insentif bagi berkembangnya investasi kelas dunia dari berbagai industri berbasis TI. Sejak awal, MSC memang ditujukan untuk menyediakan lingkungan yang memiliki beberapa karakteristik utama, yakni mendorong kreativitas dan inovasi, membantu kalangan bisnis dan perusahaan, baik Malaysia maupun mancanagera, untuk mencapai keunggulan teknologi, bermitra dengan pemain TI global, dan menyediakan peluang untuk saling memperkaya dan mencapai keberhasilan.
Hingga kini tak kurang dari 2,700 perusahaan ICT telah memilih Malaysia sebagai tempat investasi mereka, yang mencakup industri perangkat keras, pengembangan perangkat lunak, komputer, konsultasi ICT dan berbagai layanan ICT lainnya. Sedang MSC sendiri per 13 Januari 2004, telah berhasil menarik minat 976 perusahaan berstatus MSC (Multimedia Super Corridor), yang terdiri dari 934 perusahaan teknologi ICT dan 33 lembaga pendidikan tinggi ICT, serta 9 perusahaan inkubator bisnis.
Saat ini, MSC telah memasuki tahap kedua pengembangannya (2004-2010), yang akan fokus dalam upaya menjadikan, baik produk maupun jasa ICT dalam negeri, menjadi ekspor andalan Malaysia di masa datang. Hal itu dilakukan bersamaan dengan diluncurkannya tujuh aplikasi unggulan, yakni: Electronic Government, Multipurpose Card, Smart School, Telehealth, R&D Clusters, e-Business, dan Technopreneur Development.
Pembangunan technopreneur, merupakan sisi lain pencapaian Vision 2020, yang fokus dalam mendorong perkembangan usaha kecil menengah (UKM) ICT Malaysia melalui strategi mempercepat (catalyze) perusahaan-perusahaan ICT berdaya saing tinggi dan perusahaan berteknologi tinggi strategis, yang nantinya diperkirakan akan menjadi perusahaan kelas dunia. Perkembangan itu berdampak pada peningkatan ekonomi dan lapangan kerja, terutama yang berbasis pengetahuan. Ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah UKM ICT dari 300 perusahaan (1996) menjadi 1,850 tahun 2003.
Sejak diresmikannya, MSC mengalami perkembangan pesat. Tahun 2002, jumlah lapangan kerja yang telah diisi mencapai 17,000 orang, akhir 2003 mencapai 21,270 orang, dan 2004 mencapai 22,398 orang. Sekitar 86% pekerjaan itu diisi oleh tenaga kerja berbasis pengetahuan (knowledge worker). Sebagian besar pekerja TI merupakan tenaga pengembang/pemrogram peranti lunak, dimana 26% bergelar Doktor, 24% Master, 6% Sarjana, 10% Diploma dan 49% non-gelar.
Yang menarik, tak kurang dari 15,337 pekerja TI yang bekerja di lingkungan MSC atau 82,2% dari total pekerja merupakan warga Malaysia. Dari 2,746 pekerja TI asing, 54,9 % berasal dari India dan selebihnya dari Inggris. Sedang, nilai penjualan yang dihasilkan mencapai total RM 3,93 miliar atau USD 1,04 miliar (2002). Tahun 2004 meningkat mencapai RM 7,98 miliar atau USD 2,1 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2003 yang sebesar RM 5,86 miliar atau USD 1,39 miliar. Selain itu, pada 2003, tak kurang dari 276 kekayaan intelektual, berupa paten, desain industri dan merek dagang telah terdaftar. Akhir 2004 ini, diperkirakan jumlahnya akan meningkat 16% atau menjadi 320 buah.
Indonesia, dibandingkan Malaysia, memang memiliki penduduk sepuluh kali lipat, yakni mencapai 220 juta. Kompleksitas masalah yang dihadapinya juga jauh berbeda dan mungkin jauh lebih berat. Namun, kalau kita melihat bagaimana India dan China membangun, yang dari kapasitas jumlah penduduknya lima sampai enam kali lebih besar dari Indonesia, bukankah juga mereka menghadapi beban berat dan kesulitan yang besar. Tetapi, faktanya mereka berhasil membangun ekonomi dan sejumlah keunggulan. Itu karena mereka memiliki visi yang jelas dan pencapaian yang secara bertahap dilakukan mengacu pada visi tersebut.
Hal itu pula, yang menurut saya, menjadi keprihatinan banyak orang yang saya jumpai, yang intinya mengharapkan perlunya suatu arahan yang jelas, sehingga masing-masing peran yang dapat dimainkan juga semakin jelas arah dan pencapaiannya. Ibarat suatu simfoni, lagu yang akan dimainkan harus jelas lebih dahulu, sehingga peran conductor menjadi sangat berarti dalam mengharmonisasikan semua nada yang dimainkan.
Begitu juga, memuaskan semua pihak, jelas tidak mungkin, tetapi sebaliknya mengabaikan sesuatu yang terbukti telah secara signifikan mendorong perekonomian dan pertumbuhan banyak negara, ICT sepantasnya diberi perhatian. ICT, yang tak hanya dilihat dari konteks industri dan bisnis, melainkan juga bagaimana ICT akan memberi peran dan kontribusi bagi pencapaian pembangunan nasional pada sebagian besar sektor, kalaupun tak semua, yang telah dicanangkan.
Tak ada lagi langkah surut, tak perlu lagi membuat alibi dengan berbagai kelemahan dan kekurangan, tetapi sebaliknya bagaimana setahap demi setahap hal itu dilakukan, tentu dengan visi yang jelas mau kemana bangsa ini diarahkan dan titik keunggulan apa yang akan dicapai, serta di mana dan bagaimana ICT dapat berperan. Jangan biarkan berbagai inisiatif yang telah dikembangkan sebelumnya kemudian hilang dan lenyap bagaikan ditelan bumi. Sementara, setiap saat, kita membicarakan dan menyaksikan bagaimana bangsa-bangsa lain di dunia memperoleh pencapaian yang sangat berarti melalui ICT.
Bukan berarti saya menafikan apa yang telah diraih di dalam negeri hingga saat ini, namun mestinya banyak hal yang bisa kita raih lebih baik dan bernilai strategis. Dan, di sisi lain, tulisan ini tak hendak dimaksudkan untuk mengasini air laut, tetapi tak jarang pikiran-pikiran yang sederhana bisa juga memberikan sesuatu yang lebih bermakna. Apalagi, siapapun yang memiliki concern besar, baik karena kemampuan dan keahliannya, mau mengontribusi untuk pencapaian yang lebih besar ke depan bagi bangsa tercinta ini. Selamat tahun baru 2005, semoga jayalah bangsaku – Indonesia. Insya Allah.
Menebar Janji Masa Depan
- Posted: Thursday, November 10, 2005
- |
- Author: pradhana
- |
- Filed under: My Column

Berbagai teknologi canggih, meski tak semuanya baru, tampaknya akan segera mengambil peran penting dalam kehidupan masyarakat dunia, baik personal, keluarga maupun bisnis.
Singapura, negeri berpenduduk sekitar 3 juta jiwa (plus pendatang mencapai 3,8 juta jiwa) ini boleh berbangga karena berhasil menyelenggarakan suatu pameran dan konperensi internasional CommunicAsia2005 pada 14-17 Juni 2005 bertempat di Singapore Expo. CommunicAsia, pameran dagang dan konperensi Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT), merupakan ajang bergengsi bagi para pelaku bisnis dan pakar TI dan Komunikasi dunia.
CommunicAsia sendiri pertama kali digelar tahun 1979 dan kemudian menjadi agenda tahunan yang secara rutin diselenggarakan hingga saat ini. Belakangan, juga menampilkan sub-pameran lainnya, seperti MobileCommAsia2005, NetworkAsia2005 dan SatComm2005. Selain itu, dua pameran lain secara bersamaan diselenggarakan, yakni EnterpriseIT2005 dan BroadcastAsia2005, sehingga menambah lengkap ajang pameran teknologi terbesar Asia ini.
Tahun ini, tak kurang dari 60.552 pengunjung menghadiri pameran itu, dimana 48,4 persen di antaranya berasal dari luar Singapura. Sementara peserta pamerannya sendiri mencapai 2.238 perusahaan yang datang dari 55 negara dan menempati lahan seluas 62.000 meter persegi. Sedang konperensi yang diselenggarakan berkenaan dengan CommunicAsia dan BroadcastAsia dihadiri oleh tak kurang dari 1.600 delegasi dan pembicara dari seluruh dunia.
Perkembangan teknologi 3G tampaknya menarik minat banyak kalangan. Karena 3G diyakini sebagai jaringan yang memungkinkan tersedianya layanan data dan video nirkabel berkecepatan tinggi. Pada saat yang sama, teknologi ini juga akan meningkatkan kualitas layanan suara yang selama ini sudah ada, baik melalui GSM maupun CDMA.
Optimisme kemajuan penerapan layanan 3G ini memang tidak berlebihan, terutama kalau kita melihat keberhasilan Jepang dan Korea. Di Jepang sendiri lebih dari 31 juta pelanggan 3G yang berhasil digaet NTT DoCoMo (FOMA) dan KDDI (CDMA2000 1xEVDO). Sementara di Korea pelanggan 3G (termasuk 1xRTT) sudah mencapai 30 juta dan diperkirakan akan terus meningkat. Di sisi lain, Korea mengembangkan WiBro yang dianggap sebagai turunan WiMAX untuk mendukung layanan komunikasi data kapasitas besar berupa wireless broadband.
IDC, firma riset pasar TI dan konsultansi ternama, mmperkirakan pada 2009 mendatang pelanggan layanan 3G akan mencapai 127,4 juta di kawasan Asia. Tahun lalu, jumlah baru mencapai 10,2 juta, sehingga berarti rata-rata peningkatan jumlah pelanggan 3G akan mencapai 66 persen setiap tahunnya.
Beberapa pemain utama, seperti Siemens, Huawei, Motorola, Ericsson seakan berlomba menampilkan solusi 3G mereka dengan berbagai solusi, baik jaringan, kartu data maupun perangkat handset. Tak mau kalah, Samsung dan LG dari Korea dan DoCoMo dari Jepang juga menghadirkan berbagai handset 3G terbaru mereka.
Penerapan 3G di Asia mengusung dua teknologi utama, yakni WCDMA dan CDMA2000 1xEVDO. Tetapi, WCDMA meski sekarang ini dinilai masih sejajr dengan 1xEVDO, namun ke depan akan meningkat dengan hadirnya teknologi HSDPA, yang diperkirakan mampu menyampaikan data dengan kecepatan hingga 14,4Mbps. Siemens mendemonstrasikan kartu data HSDPA untuk laptop yang dianggap sebagai akselerator transfer data kecepatan tinggi, terutama bagi 3G WCDMA. Dengan kartu data itu, Siemens membantu para pelanggannya untuk mengoptimalkan penggunaan pita frekuensi, karena kecepatan download-nya dapat mencapai hingga 3 Mbps, yang dipandang setara dengan yang dapat dilakukan DSL (kabel).
Untuk pertama kalinya di Asia Tenggara, Ericsson mendemonstrasikan teknologi HSDPA-nya yang mampu mentransfer data hingga 11Mbps, sehingga pengguna ponsel 3G dapat menikmati kemudahan mendownload aplikasi video streaming. Ericsson juga mendemonstrasikan ”high performance broadband” berupa akses Internet kecepatan tinggi, TV interaktif dan layanan multimedia, seperti messaging, voice dan video telephony, dan connected home.
Sementara Samsung mengintrodusir berbagai produk yang sangat inovatif, baik ponsel 3G maupun teknologi infrastrukturnya. Pada kesempatan itu, Samsung memperkenalkan kamera ponsel 7 megapiksel yang pertama di dunia – Samsung SCH-V770. Ponsel yang mengusung kamera 7MP ini, lebih dikenal sebagai kamera berponsel, daripada ponsel berkamera. Didukung CCD image sensor 1/1.8 inci, memori internal 32MB, ponsel ini juga dilengkapi pembaca kartu nama, MP3 player, Adobe Photoshop, dan digital power amplifier.
Dengan tema ”Mobile Convergence”, sebenarnya Samsung menunjukkan kepiawaiannya dalam perangkat mobile 3G, kamera ponsel, dan kapabilitas multimedia, seperti musik, HDD storage, broadcasting dan juga infrastruktur. Tema konvergensi ini juga dibawa oleh Sony Ericsson dengan menampilkan, salah satunya gizmo yang berbasis Walkman, Sony Ericsson W800i. Meskipun ponsel MP3 sudah ada sejak beberapa tahun lalu, namun Sony Ericsson melengkapi ponsel Walkman-nya dengan Memory Stick PRO Duo 512MB (dapat ditingkatkan hingga 2GB) dan baterai yang tahan 30 jam, yang diperkirakan akan menarik minat kalangan muda. Kapabilitas MP3-nya memungkinkan lagu-lagu diperdengarkan pada hi-fi stereo dan speaker mobil melalui MMC-60 Music Cable atau HCA-60 Advanced Car Handsfree.
Untuk soal musik ini, Unified Communication menampilkan inovasinya melalui layanan Background Music, yang merupakan layanan yang pertama di Asia. Layanan ini memungkinkan pelanggan telepon bergerak dan tetap dapat mengaktifkan lagu-lagu dari album musik sambil berbicara di telepon. Pelanggan dapat melakukan pre-program berbagai musik kegemaran mereka yang berbeda-beda dan kapan musik itu akan diperdengarkan tanpa mengganggu pembicaran telepon yang dilakukan. Selain itu, pelanggan juga dapat mengatur volume, mengganti musik cukup dengan menggunakan interface seperti IVR, Web, WAP, i-mode, USSD dan SMS.
Selain perkembangan 3G, kemajuan teknologi WiMAX juga menjadi perhatian para pengunjung. Beberapa pemain besar, seperti Siemens, Huawei, Motorola, tampil dengan berbagai solusi WiMAX mereka. Siemens juga menampilkan solusi WiMAX-nya yang disebut SkyMAX, yang merupakan produk WiMAX pertama yang mendapatkan sertifikasi.
SkyMAX menyediakan konektivitas broadband nirkabel untuk para pengguna tetap, portabel dan nomadik yang berada dalam radius area layanan 25-30 km. SkyMAX merupakan platform solusi bagi kalangan bisnis dan rumah yang didukung teknologi OFDM, dimana sistemnya bekerja pada frekuensi 2.3/2.5 GHz dan 3.5GHz. SkyMAX dirancang sebagai solusi komunikasi suara bermutu tinggi, akses Internet kecepatan tinggi, termasuk layanan video streaming.
Hal lain yang menarik adalah sejumlah perusahaan broadcast Korea menampilkan solusi Digital Multimedia Broadcasting (DMB), yang layanannya sendiri sudah diluncurkan di Seoul secara nasional (DMB satelit), sedang yang terestrial di Seoul. Pendukungnya tak lain Samsung dan LG. Selain itu, juga ditampilkan teknologi DVB (Digital Video Broadcasting) yang fokus pada penyediaan layanan DVB di ponsel (baca mengenai DMB dan TV di ponsel dalam eBizzAsia, Edisi No.26, Mei 2005).
Salah satu aplikasi yang menarik, yang berbasis IP dalam broadcasting adalah IPTV, yakni siaran TV yang memanfaatkan konektivitas broadband. Pelanggannya, tahun 2004 lalu baru mencapai 500.000, namun tahun 2009 oleh IDC diproyeksikan akan mencapai 20 juta. Pertumbuhannya ekitar 19 persen, utamanya para pengguna rumah. Hong-Kong, Australia, Korea dan Singapura, serta Jepang merupakan negara yang pertumbuhan pelanggan IPTV-nya cukup tinggi.
Di sisi lain, kemunculan mobile broadcasting dianggap telah mempercepat konvergensi antara telekomunikasi tradisional, penyiaran satelit dan teknologi informasi. Karenanya, meningkatnya ketersediaan layanan 3G, yang merupakan konektivitas kecepatan tinggi, dipadukan dengan berbagai aplikasi dan layanan bergerak, semakin mendorong penyediaan media yang kaya, yang mengonvergensikan baik suara, data maupun video.
Ke depan, tren besar industri telekomunikasi akan mengarah pada terjadinya evolusi dari jaringan tradisional (circuit-switched) ke jaringan NGN (Next generation Network), yang menjanjikan suatu pendapatan yang tinggi dan didukung teknologi canggih, seperti IPv6, 3G dan WiMAX. Sementara, biaya modal dan operasionalnya dapat lebih dihemat. Sedang konten dan layanan yang dapat disediakannya pun akan semakin beragam, aksesnya sangat cepat dan bersifat multimedia.
e-Procurement
- Posted: Tuesday, November 08, 2005
- |
- Author: pradhana
- |
- Filed under: My Column
e-Procurement merupakan suatu cara pengadaan barang dan jasa yang dilakukan secara elektronik. Cara ini, memang merupakan cara baru dalam urusan pengadaan barang dan didukung jaringan dan sistem elektronik. Cara ini semakin banyak dilakukan, terutama oleh perusahaan-perusahaan atau lembaga pemerintahan yang telah menerapkan teknologi informasi (TI).
Selain sebagai cara untuk mengefisienkan proses pengadaan, e-procurement juga dinilai sebagai salah satu cara yang efektif untuk memangkas kerumitan dalam proses pengadaan barang secara konvensional dan sekaligus memangkas biaya. Dalam konteks cara konvensional, biaya yang muncul dalam proses pengadaan, tak jarang, bukan merupakan biaya langsung sebagai konsekuensi penyelenggaran proses pengadaan, melainkan ”biaya” tidak langsung, yang seringkali bahkan jauh lebih besar dari biaya yang sesungguhnya.
Biaya ini memiliki banyak nama dan umum diketahui. Terkadang disebut biaya bawah tangan, biaya siluman dan lain sebagainya. Namun, yang pasti, proses pengadaan menjadi bias, dan tak jarang tidak lagi sesuai dengan yang diharapkan akibat adanya pengaruh yang besar dari biaya-biaya itu. Proses pengadaan bukan lagi sebagai cara efisien dan hemat biaya dalam pengadaan barang, melainkan telah menjadi proses untuk memperoleh uang dengan berbagai cara dan mempengaruhi proses pengadaan itu sendiri.
Karenanya, ketika pemerintah bertekad akan menggunakan e-procurement dalam proses pengadaan berbagai keperluan pemerintah, maka hal itu selayaknya disambut positif. Selain itu merupakan tekad yang baik dari pemerintah, e-procurement memang telah banyak diterapkan di berbagai negara, seperti Singapura dan Malaysia. Karenanya, kalau Indonesia menerapkannya, itu merupakan suatu langkah maju. Untuk tahap awal, rencananya e-procurement akan diterapkan di semua instansi di Pulau Jawa dalam dua tahun mendatang, sementara penerapannya di seluruh Indonesia baru akan terwujud pada 2010.
Tahun ini, Bappenas bahkan sudah merencanakan untuk melaksanakan beberapa tahapan penerapan e-procurement di pemerintahan secara menyeluruh melalui proyek percontohan di lima departemen, yaitu Bappenas, Departemen Keuangan, Departemen Pekerjaan Umum, Depkominfo, dan Menko Perekonomian. Meski, sebenarnya, sejumlah departemen lain telah mulai menerapkannya, antara lain Departemen Kesehatan, Depdiknas, Departemen Perhubungan, Pemkot Surabaya, dan salah satu pemda di Bali.
Meski berbeda dengan cara-cara konvensional, namun e-procurement bukanlah suatu sistem yang sama sekali baru dan tak mungkin diintervensi oleh manusia. Sebagai suatu sistem, e-procurement memang menggunakan jaringan elektronik, namun esensi proses pengadaannya boleh dikata relatif sama. Hanya saja, dengan e-procurement memang ada bagian-bagian dari proses yang berbeda dan sama sekali tidak bisa diintervensi oleh manusia.
Karenanya, yang sangat diperlukan adalah adanya transparansi yang didukung oleh suatu mekanisme dan tata aturan serta kriteria yang jelas, sehingga proses pengadaan melalui e-procurement dapat dijalankan secara optimal. Yang lebih penting adalah bagaimana semua aturan dan kriteria yang ditetapkan sejak awal itu benar-benar dipatuhi dan dilaksanakan dengan benar, sebelum proses penawaran secara elektronik dilakukan. Belajar dari pengalaman yang dilakukan oleh negara-negara lain, yang lebih luas penerapannya, bukan sesuatu yang mustahil dilakukan.
Di sisi lain, inisiatif yang dilakukan oleh pemerintah ini, jika dapat dilaksanakan dengan baik, akan merupakan langkah awal yang positif untuk mengefisienkan semua proses pengadaan berbagai keperluan pemerintah dan lembaga negara, termasuk BUMN, dan sekaligus melakukan penghematan, serta menghindari kemungkinan terjadinya tidak korupsi dan berbagai penyimpangan lainnya.
Kalau saja pemerintah dapat secara konsisten dan sungguh-sungguh berkomitmen dalam menerapkan e-procurment ini, maka kita mungkin boleh berharap akan berjalannya suatu pemerintahan yang bersih, transparan dan sehat. Meskipun, ini baru merupakan salah satu upaya strategis dari berbagai upaya lain yang diperlukan untuk itu.
Nilai dan Manfaat
- Posted: Sunday, November 06, 2005
- |
- Author: pradhana
- |
- Filed under: My Column
Jakarta areal view - in the evening 2005
Disadari atau tidak, dianggap atau tidak, dipedulikan atau tidak, bangsa-bangsa di sekitar kawasan ini, katakanlah ASEAN saja, telah berkembang lebih maju dibandingkan sepuluh tahun yang lalu. Kebangkitan Malaysia misalnya, telah melambungkan bangsa melayu itu ke posisi yang jauh lebih tinggi dalam pergaulan dunia. Apalagi, Singapura yang dikenal sebagai “financial and business hub” di Asia Tenggara, jelas jauh lebih maju, baik birokasi maupun pencapaian yang diraihnya hingga saat ini.
Vietnam, yang selama bertahun-tahun pecah-belah karena peperangan yang panjang, dalam beberapa segi dikabarkan juga lebih maju dari Indonesia. Begitu juga, Thailand dan Filipina.
Namun, kalau hal ini diungkapkan maka pertanyaan yang selalu muncul adalah suatu bentuk pembelaan diri, yang terkadang justru berlebihan. “Dari aspek apa suatu negara itu dipandang lebih maju dari Indonesia, apaka ukurannya dan apa saja kelebihannya? Bukankah Indonesia lebih luas areanya, lebih banyak jumlah penduduknya dan lebih kaya sumberdaya alamnya? Apakah itu tidak menunjukkan bahwa bangsa Indonesia lebih besar, lebih kaya dan segala macam lebih lainnya. Sampai, pada satu titik, Indonesia lebih parah korupsinya di bandingkan negara-negara lain di Asia.
Sikap defensif semacam itulah yang tampaknya terus menerus ingin kita tunjukkan. Sikap pembelaan yang terkadang berlebihan itu, pada saat yang sama tidak juga ditunjukkan oleh perilaku yang lebih baik, baik di kalangan birokrasi maupun masyarakat luas. Korupsi masih terjadi di mana-mana, berbagai pelanggaran dan kontradiksi antara ucapan dan perilaku masih terus terjadi. Namun, di sisi lain, kita juga tak mau dikritik, apalagi kalau dituding.
Dalam konteks penerapan ICT, misalnya, Indonesia boleh dibilang belum memberikan dampak yang luas dan mendorong munculnya berbagai bisnis dan pendapatan baru yang lebih menarik minat para pelaku bisnis. Padahal, banyak negara yang telah menunjukkan tingkat kemajuan yang berarti dalam memanfaatkan ICT bagi berkembangnya industri peranti lunak, perangkat keras, penyelenggaraan negara (birokrasi) dan dunia pendidikan.
Pernah suatu kali, dalam wawancara khususnya dengan eBizzAsia, Jos Luhukay, Pengamat dan Praktisi Ekonomi Baru, mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia sesungghnya mewarisi suatu sejarah, dimana pemerintah praktis tidak mengambil posisi dalam teknologi informasi (ICT), sampai sekarang ini. “Kalaupun ada KOMINFO, ya akhirnya tidak jelas dalam teknologi informasinya. Pada akhirnya, kita tidak bisa memusatkan satu upaya dengan resource yang pas-pasan ini, sesuatu yang akan memajukan kita. Itu, nggak ada. Jadi, teknologi yang satu ini memang tidak dianggap sesuatu yang dapat memberdayakan bangsa,” ungkap Jos.
Sementara, Vietnam, dengan perkirakan pertumbuhan 7% per tahun, pada 2005 ini industri ICT domestiknya akan meraih pendapatan US$ 850 juta dan pada 2010 diperkirakan meningkat mencapai US$ 1.9 miliar, atau sebesar 3% dari total GDP sebesar US$ 60 miliar.
Sedang Filipina akan segera menerapkan apa yang disebut inisiatif The Philippine Cyberservices Corrridor (PCC) yang hampir sama dengan Multimedia Super Corridor (MSC) yang dibangun Malaysia. Selain itu, Filipina juga mengembangkan program ICT untuk UKM dan proyek database ICT. Inisiatif ini disebut ”One Million for ICT” yang merupakan proyek pendaftaran dan pemetaan profesional ICT yang diperkirakan akan selesai sebelum 2010. Dengan pemetaan tersebut, Filipina akan mengetahui secara cermat kapabilitas nasional dalam bidang ICT, baik jumlah profesional ICT-nya maupun keahlian dan ketrampilan yang dikuasainya.
Malaysia
Malaysia, yang dalam era pemerintahan Dr Mahathir Mohammad berhasil merumuskan apa yang mereka sebut “Vision 2020”, mungkin menarik untuk dijadikan contoh, meski belum tentu menjadi contoh yang ideal. Namun, apa yang dikembangkan Malaysia menampilkan suatu pola pikir yang jelas dan secara konsisten diterapkan didukung suatu mekanisme pelaksanaan yang kondusif dan kompetitif.
Berdasarkan Vision 2020 itu, Malaysia membangun suatu proyek prestisius, yang disebut Multimedia Super Corridor (MSC), yang dibangun pada 1997. Menempati lahan seluas 15x50 kilometer persegi, yang membentang antara Kuala Lumpur City Centre Towers (KLCC) dan Kuala Lumpur International Airport (KLIA), MSC dimaksudkan sebagai tempat terjadinya interaksi antara pemerintah, pelaku industri, dan institusi pendidikan (SDM), sehingga membentuk suatu kawasan unggulan ICT.
Berdasarkan Vision 2020 itu pula, Malaysia kemudian membangun National Information Technology Agenda (NITA), yang berperan mendukung pengembangan suatu masyarakat dan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based society). Untuk mendukung arah pemberdayaan pengetahuan tersebut dibangun National Information Technology Council (NITC), yang berperan penting sebagai lembaga konsultasi atau penasihat bagi pemerintah dalam pemanfaatan ICT untuk kepentingan pembangunan nasional.
Sementara, MSC sendiri sepenuhnya dikelola oleh suatu institusi non-departemen, yakni Multimedia Development Corporation Sdn. Bhd. (MDC), yang terbukti memberi banyak kemudahan dan insentif bagi berkembangnya investasi kelas dunia dari berbagai industri berbasis TI.
Dewasa ini, lebih dari 2,700 perusahaan ICT telah memilih Malaysia sebagai tempat investasi mereka, baik industri perangkat keras, pengembang peranti lunak, komputer, konsultasi ICT dan lainnya. Sedang MSC sendiri per 13 Januari 2004, telah berhasil menarik minat 976 perusahaan berstatus MSC - 934 perusahaan teknologi ICT, 33 lembaga pendidikan tinggi ICT, dan 9 perusahaan inkubator bisnis.
Kalau tahun 2002 jumlah lapangan kerjanya mencapai 17,000 orang, akhir 2003 mencapai 21,270 orang, dan 2004 mencapai 22,398 orang. Sekitar 86% diisi oleh tenaga kerja berbasis pengetahuan (knowledge worker), dimana sebagian besar pekerja TI merupakan tenaga pengembang/pemrogram peranti lunak - 26% bergelar Doktor, 24% Master, 6% Sarjana, 10% Diploma dan 49% non-gelar.
Yang lebih menarik, lebih dari 15,337 pekerja TI yang bekerja di lingkungan MSC atau 82,2% dari total pekerja merupakan warga Malaysia. Dari 2,746 pekerja TI asing, 54,9 % berasal dari India dan selebihnya dari Inggris. Nilai penjualan yang dihasilkan mencapai total RM 3,93 miliar atau USD 1,04 miliar (2002). Tahun 2004 meningkat mencapai RM 7,98 miliar atau USD 2,1 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2003 yang sebesar RM 5,86 miliar atau USD 1,39 miliar. Selain itu, pada 2003, tak kurang dari 276 kekayaan intelektual, berupa paten, desain industri dan merek dagang telah terdaftar.
Saat ini, MSC telah memasuki tahap kedua pengembangannya (2004-2010), yang akan fokus dalam upaya menjadikan, baik produk maupun jasa ICT dalam negeri, menjadi ekspor andalan Malaysia di masa datang. Hal itu dilakukan bersamaan dengan diluncurkannya tujuh aplikasi unggulan, yakni: Electronic Government, Multipurpose Card, Smart School, Telehealth, R&D Clusters, e-Business, dan Technopreneur Development.
Mau Kemana?
Dari berbagai perbincangan yang penulis lakukan, sebagian besar profesional, baik yang terkait langsung dengan aspek pengembangan ICT maupun tidak, muncul ketidaksabaran untuk melihat bagaimana bangsa ini tidak mengambil posisi untuk mengoptimalkan ICT bagi banyak aspek perkembangan, utamanya birokrasi pemerintahan dan industri nasional pada umumnya.
Di sisi lain, apa yang dibangun Malaysia dengan MSC-nya, terbukti tak hanya terkait dengan industri ICT saja, melainkan seluruh industri terdorong untuk memanfaatkan ICT dalam upaya mencapai tujuannya, terutama bisnis. Sementara, pemerintah sendiri mengambil langkah yang jelas untuk mendorong kemajuan industri nasional dan pengembangan birokrasi nasional dalam menjadikan Malaysia negara yang kompetitif, baik dari segi kapabilitas nasional maupun sebagai tujuan investasi.
Inisiatif-inisiatif besar semacam itu yang justru tak terlihat di Indonesia. Sementara, industri berjalan sendiri dengan arahnya masing-masing dan dengan sumberdaya yang terbatas itu, Indonesia tak mampu mengoptimalkannya menjadi potensi yang besar. Bukan saja ICT sebagai potensi industri yang menjadi tren besar dunia, melainkan juga sebagai enabler pencapaian tujuan-tujuan nasional yang lebih besar melalui pencapaian di berbagai bidang, seperti pendidikan, jasa, kesehatan, perdagangan dan sebagainya.
Di satu perbincangan, seorang teman sempat mengungkapkan, seandainya saja Kementrian Kominfo dan BUMN mau benar-benar fokus untuk mendorong penerapan ICT di BUMN, katakanlah e-Procurement, misalnya, maka hal itu akan berdampak sangat luas. Bukan hanya diterapkan, tetapi benar-benar di”tegakkan” makna penerapannya, maka ia akan berdampak pada transparansi dan terwujudnya “Good Corporate Governance” dalam berbagai aspek pengelolaan BUMN. Jika hal itu bisa terwujud dalam lima tahun ke depan ini, mungkin kita bisa berharap ada gerak maju yang positif, khususnya di salah satu aspek.
Dan, ICT berpotensi mendorong banyak aspek, kalau tak mau disebut semua aspek, untuk menjadi lebih transparan, efisien, efektif dan produktif. Selain juga, tentunya, mendorong demokrasi dalam segenap aspek, politik, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Semoga, bangsa ini mampu mengambil manfaat optimal.
The New Pendulum
- Posted: Thursday, October 20, 2005
- |
- Author: pradhana
- |
- Filed under: My Column

China memang boleh dikata sangat fenomenal.
Negeri tirai bambu yang berpopulasi lebih dari 1,3 miliar orang ini, mampu mengatasi banyak hal yang sebelumnya dianggap sangat sulit untuk diangkat. Jumlah populasi penduduk yang tertinggi di dunia, pada saat yang sama bisa berada pada posisi sebagai beban dan sekaligus pasar yang sangat potensial. Dan, inilah yang kini ingin dibuktikan oleh China.
Sejak munculnya kebijakan pintu terbuka dan reformasi, China setidaknya telah mengalami 18 tahun masa pembangunan ekonomi dengan tingkat kecepatan yang tinggi, yang membuatnya menjadi salah satu negara paling dinamis dan dengan pasar terbesar yang tengah bangkit bak seekor ”Naga” di dunia, saat ini. Kekuatan China, tak lagi semata-mata mengandalkan pola-pola lama, yang sebelumnya banyak orang selalu melihatnya sebagai bagian dari lingkungan konvensional, terutama karena terkait dengan paradigma komunisme yang kental, yang sangat berbeda jika dilihat dari pola pembangunan di banyak negara maju di Eropa dan Amerika.
Namun, China yang kita lihat hari ini adalah China yang sangat moderen, yang telah membangun suatu sistem berbasis teknologi yang maju, yang didukung oleh teknologi informasi, bioteknologi, teknologi otomasi, bahan-bahan baru, teknologi energi dan aerospace, yang juga didukung oleh kelompok-kelompok saintis yang sudah mapan. Keberadaan semua itu, yang justru merambah jalan bagi China dalam visi pembangunan suatu masyarakat moderen, yang didukung teknologi tinggi maju yang mendorong posisinya ke atas di abad ke 21 ini.
China, kini bukan suatu kekuatan politik yang didukung komunisme dalam persepsi masa lalu, tetapi China masa kini, mungkin tak terlalu berlebihan, kalau disebut telah menjelma menjadi suatu negara dengan kekuatan ekonomi, sumberdaya manusia dan industri maju, serta pasar yang sangat besar di dunia. Begitu besarnya, sehingga belum tentu tertandingi oleh menyatunya beberapa ekonomi negara-negara maju lainnya di dunia.
Satu hal yang menarik, roda perkembangan teknologinya didukung oleh dua pilar pertahanan yang kokoh, yakni kemajuan teknologi dan perkembangan pasar yang semakin meluas. Perkembangan pasar ditopang oleh pilar enterprise dan pasar, dimana enterprise memiliki hubungan yang sangat dekat dengan pasar, sehingga teknologi yang mendukung perkembangan China sangat terkait dengan pasar. Sedang pilar yang mendukung pertahanan teknologi adalah ilmu pengetahuan dan teknologi baru.
Karenanya, ketika pengetahuan menjadi sumber dan basis teknologi, maka kapasitas pemrosesan pengetahun, pengembangan pengetahuan dan penerapan pengetahuan akan semakin mendorong kecepatan pembangunan ekonomi dan teknologi, sebagaimana yang dialami China dalam beberapa tahun belakangan ini. Semakin jelaslah bahwa pembangunan China didukung secara tegar oleh teknologi dan pasar, dan keduanya membangun sinergi, bukan satu pilihan di antaranya. Dengan begitu, jika salah satunya lemah, maka ia akan berpengaruh terhadap kecepatan roda pembangunan teknologinya.
Pemerintah China sangat menyadari penting dan strategisnya peran yang bisa dibawa oleh Teknologi Informasi (TI) bagi kemajuan China ke depan. Kepercayaan mereka dengan nilai siklus ”Yin & Yang” membuat mereka juga mengambil posisi untuk menyeimbangkan berbagai aspek perkembangan yang mereka harapkan, termasuk dalam pembangunan ”roda” teknologi. Roda penggerak pembangunan teknologi dipisah menjadi dua, yakni bagaimana ”penggerak atau driver” dan ”penahan atau restriction” dapat dibentuk berdasarkan suatu kondisi tertentu, tetapi secara bersamaan.
Jadi, antara ”yang boleh” dan ”yang tidak boleh” dianut secara seimbang, dimana dari keduanya mungkin muncul kesalahan yang kemudian dibuatkan suatu keseimbangan baru, tetapi dinamis. Karena, secara nyata juga terlihat bahwa tradisi China memiliki pengaruh ganda dalam pembangunan modernisasi nasional dan promosi alih teknologi.
Dalam pembangunan dan pengembangan teknologi informasi, China membangunnya dengan dukungan empat pilar utama, yang diharapkan akan memutar ”roda” pembangunan teknologi, yang didukung oleh:
- Teknologi Baru, yang diterapkan dalam bentuk pembangunan infrastruktur informasi, sistem informasi dalam bahasa China, aplikasi, telekomunikasi baru (broadband, nirkabel, seluler, dll.), Internet, dan lain sebagainya.
- Enterprise, yang ditekankan pada pembangunan kewirausahaan (enterpreneur), pembangunan ekonomi, usaha patungan (joint ventures), investasi, HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual), misalnya merek, paten dan lain sebagainya.
- Ilmu Pengetahuan, yang diarahkan pada pengembangan perilaku ke arah kesiapan berbagi (sharing), mematuhi tata aturan dan hukum, nilai-nilai, ideologi, kebutuhan yang diharapkan oleh klien, dan lain sebagainya.
- Pasar, yang ditujukan pada pengembangan klien, antar muka yang sederhana, komputer, komunikasi, integrasi televisi, Internet, multimedia interaktif, teknologi pemrosesan grafis dan bahasa, dan lain sebagainya.
Keempatnya membentuk, masing-masingnya, empat pilar yang kokoh yang tampaknya akan sangat mempengaruhi pembangunan TI China dalam 5 sampai 10 tahun yang akan datang. Dan, itu bukan tanpa masalah. Tapi, arahnya sangat sangat jelas!
Saat ini, industri TI merupakan segmen ekonomi utama China dengan output nilai tambah mencapai US$76 miliar tahun 2003, terutama karena besarnya dukungan pemerintah China terhadap perkembangan industri TI nasional. Ini dibuktikan bahwa pada tahap pembangunan lima tahunan kesepuluh (2001-2005), China berhasil membangun tiga high-tech “belts” yang baru, yakni di delta sungai Zhujiang di China Selatan, delta sungai Yangtze di propinsi Jiangsu, dan di sekitar Beijing guna meningkatkan produksi barang-barang elektroniknya. Hingga tahun 2005, pemerintah China berharap bahwa industrinya akan membukukan pertumbuhan lebih dari 7 persen dari GDP, dimana telekomunikasi menyumbang setidaknya 4,7 persen dan, dari jumlah itu, produk-produk elektronik bertahan di 2,5 persen.
Pasar TI China, berkembang sangat cepat dan, saat ini, boleh dikata menempati urutan kedua di Asia Pasifik, setelah Jepang. Menurut International Data Corporation (IDC), pasar China, khususnya untuk produk dan jasa TI tahun 2002 lalu mencapai US$22 miliar dan tahun 2006 mendatang diharapkan akan mencapai US$40,2 miliar. Komposisinya di tahun 2002, adalah 73 persen pasar perangkat keras, 10 persen piranti lunak paket dan 17 persen jasa-jasa TI.
Di sisi lain, pemerintah China juga mendorong penggunaan TI, misalnya di sekolah-sekolah, lembaga-lembaga publik, dan kalangan bisnis, sehingga hal itu juga, pada ujungnya, semakin mendorong peningkatan belanja di sektor perangkat komputer dan kebutuhan masyarakat.
Sebagaimana dilaporkan McKinsey, selama beberapa tahun belakangan ini, industri TI Cina mengalami pertumbuhan yang mengesankan. Jumlah lulusan teknik dan profesional aplikasi-software Cina, juga semakin meningkat, dimana jumlah tenaga kerja yang mampu berbahasa Inggris – yang sangat penting untuk menggarap outsourcing TI – bertambah dua kali lipat sejak tahun 2000, menjadi sekitar 24 juta orang di tahun 2004.
Sedang, pasar piranti lunak berkembang cukup pesat, dimana tahun 2006 mendatang diharapkan nilai pasarnya mencapai US$5 miliar, palagi tahun 2008 mendatang China akan menggelar Olympic Games. Sedang di pasar jasa TI, nilainya mencapai US$4,7 miliar pada 2003 dimana dalam empat tahun ke depan, 2007, diperkirakan mencapai US$11,7 miliar.
Pada saat yang sama, jumlah pengguna Internet China, yang tahun 1995 lalu hanya 15.000 orang, tahun 2003 telah mencapai 59 juta, dan September 2004 meningkat menjadi 87 juta orang pengguna. Sementara itu, jumlah pengguna telepon seluler sekitar 300 juta, dimana 282 juta di antaranya merupakan pengguna seluler GSM. Strategy Analytics, salah satu perusahaan riset pasar ternama, memperkirakan bahwa para pengguna koneksi broadband pada tahun 2008 diperkirakan mencapai 37 juta, dan harga akses yang murah akan menjadi kunci berkembangnya jumlah pengguna Internet di negeri panda ini.
Lebih dari itu, hingga Januari 2005, China telah memiliki situs web yang terdaftar resmi sebanyak 1.852.300, meningkat 56 persen dibandingkan tahun lalu. Dari semua nama domain yang didaftarkan, 71,6 persen di antaranya berupa domain berakhiran .net.cn, sedang .net sekitar 12,5 persen. Sementara, secara geografis, tiga teratas yang mendaftarkan nama domain berada di kawasan Guangdong 16,3 persen, Beijing 12,9 persen dan Fujian 11,2 persen.
Sejak era keterbukaan dan reformasi, rata-rata peningkatan pendapatan tahunan dalam GDP sebesar 9,9 persen (dari 1978 sampai 1995). Reformasi ekonomi telah melahirkan sangat banyak entrepreneur, utamanya yang berbasis teknologi dan sains. Hingga tahun 1995, tak kurang dari 97,000 perusahaan-perusahaan teknologi swasta tercipta, dimana 70 persen di antaranya bergerak di bidang teknologi tinggi di seluruh wilayah China.
Dalam konteks ini, peran investasi asing sangat menentukan bagi pembangunan ekonomi skala besar yang terjadi di China. Hari ini, bahkan China telah menjadi salah satu ekonomi yang sangat kokoh di dunia. Kalau hingga tahun 1996 ada sekitar 280.000 investasi asing dengan nilai mencapai US$ 170 miliar, maka hingga akhir Februari 2005 ada lebih dari 510,000 perusahaan investasi asing dengan total nilai investasi mencapai US$ 1,1 triliun. Dan, lebih dari 200 perusahaan 'Fortune 500' memiliki investasi di China.
Namun, belakangan ini muncul suatu kesadaran baru ke depan, bahwa China tak hanya bagus dalam angka-angka sebagaimana ditampilkan dalam kolom ini, melainkan sangat potensial untuk menggantikan dominasi dunia, yang selama ini dipegang oleh sejumlah kecil negara-negara kaya, katakanlah yang tergabung dalam G7.
Jumlah penduduk China yang sangat besar, pada saat ini, terbukti tak semata-mata beban bagi pemerintah, melainkan menjadi potensi kekuatan dan pasar yang sangat besar. Berbagai keunggulan terus dibangun, mulai dari peningkatan jumlah SDM yang berbasis pengetahuan (knowledge-based human resource), hingga munculnya puluhan ribu perusahaan-perusahaan moderen yang berbasis teknologi informasi, baik investasi lokal, regional maupun mancanegara.
China, tampaknya, akan terus berkembang dengan pesat dan dalam skala yang sangat besar, meski juga menghadapi tantangan yang juga sangat besar. China, yang sekarang, memang akan menjadi pendorong berubahnya peta kekuatan eknomi dan industri dunia, yang didukung oleh penerapan teknologi informasi, pengembangan sumberdaya manusia, dan nilai pasar yang sangat besar dan kompetitif.
Di Indonesia pun pengaruhnya pun mulai terasa semakin kuat dan memihak. Semakin banyak saja perusahaan-perusahaan Indonesia yang mulai memindahkan kegiatan operasionalnya, atau manufakturnya, ke China, baik dengan alasan untuk menangkap pasar China, maupun untuk mengisi pasar dalam negeri, karena terbukti biaya produksinya relatif murah, sehingga lebih kompetitif.
Di sisi lain, tampaknya semakin banyak juga kalangan berpunya di negeri ini, terutama dari kalangan bisnis, yang mulai memindahkan kiblat pendidikan anak-anak mereka tidak lagi ke negara-negara Eropa dan Amerika, apalagi kalau berbicara bisnis ke depan. Ke China, kini bukan lagi untuk belajar ramuan obat-obatan tradisional China, yang sekarang ini justru semakin mendapatkan jastifikasi lebih tinggi, karena didukung riset yang lebih dalam dari para pakar China sendiri, melainkan belajar bisnis dan membangun relasi, yang secara faktual, akan menjadi tren di masa depan.
Sejumlah kalangan memperkirakan, bahwa dalam bilangan beberapa tahun ke depan, arah pergerakannya akan benar-benar mengambil posisi, bukan saja sebagai pengimbang, melainkan pengganti, dari kecenderungan yang terjadi selama ini. Lihat saja, saat ini, tak kurang dari 86.000 mahasiswa asing dari lebih 170-an negara di dunia, yang belajar di sejumlah universitas di China. Jumlah itu diperkirakan akan terus meningkat hingga 120.000 pada 2008. Padahal, 20 tahun yang lalu, hanya sekitar 8.000 mahasiswa asing saja yang belajar di seluruh daratan China.
Dari jumlah itu, tak kurang dari 60.000 mahasiswa yang belajar di China berasal dari kawasan Asia, antara lain Korea Selatan (35.000), Jepang (16.000) dan sisanya dari sejumlah negara asing lainnya, termasuk Indonesia. Sedang dari Amerika (7.000) dan Eropa (6.000). Di Beijing sendiri kini, ada lebih dari 5.000 perusahaan, 60 di antaranya perusahaan besar Amerika, 73 universitas, 232 lembaga riset bidang sains. Selain Beijing, tampaknya yang akan menjadi tujuan mahasiswa asing adalah Shanghai dan Tianjin.
Sementara di seluruh China, kini ada lebih dari 2000-an universitas mulai dari pendidikan setingkat Sarjana, Master maupun Doktor, dimana 300 di antaranya memiliki mahasiswa asing. Dalam beberapa tahun ke depan, diperkirakan jumlahnya akan terus meningkat cepat, karena trennya memang akan bergerak ke sana.
China, memang fenomenal, dan angka-angka yang ditampilkan di sini setidaknya merpresentasikan dinamika besar yang kini tengah terjadi di negeri dengan luas sekitar 9,6 juta kilometer persegi dan 666 kota ini, yang nantinya akan menjadi kekuatan utama dunia, terutama dalam dunia industri dan ekonomi. Dan, China is now becoming the new pendulum of the world.
Outsourcing
- Posted: Saturday, October 15, 2005
- |
- Author: pradhana
- |
- Filed under: My Column
Sebelumnya, memberikan kepada perusahaan lain pekerjaan yang seharusnya dikerjakan sendiri, terlebih-lebih bila itu inti bisnis yang di jalankan, bukan saja tabu tapi riskan. Kalaupun harus diberikan ke pihak lain, hal itu akan diikuti dengan sederet persyaratan yang terkadang sangat rumit. Itu pun masih dibayang-bayangi dengan rasa “was-was” dan “ragu”, apakah tidak akan dibohongi.
Namun, sekitar awal 1990an, ketika komputer dan teknologi informasi mulai banyak digunakan di perusahaan-perusahaan, khususnya dengan dibentuknya departemen TI tersendiri, memberi pekerjaan ke pihak lain, yang istilah kerennya outsourcing, semakin banyak dilakukan. Masalahnya tidak hanya karena ketidakmampuan melakukannya dengan baik, tetapi masih banyak alasan lain yang tidak memungkinkan melakukannya. “Kita tidak menguasai bisnis TI,” ujar para eksekutif beralasan, “karenanya lebih baik kita outsource saja ke pihak lain yang dapat melakukannya lebih baik”. Bukankah dengan begitu kita dapat lebih berkonsentrasi ke inti bisnis yang kita lakukan?
Outsourcing seperti mendapatkan momentum baru seiring dengan penggunaan teknologi informasi, yang banyak digandrungi para eksekutif. Internet, dan platform komunikasi yang dibangunnya di perusahaan-perusahaan, telah memungkinkan terjadinya aliansi, bukan alinasi, dan hubungan yang mulai semakin banyak dirasakan kalangan perusahaan. Aliansi boleh dibilang menjadi kata lain dari outsourcing ini. Misalnya saja, peritel Internet Amazon.com Inc. (www.amazon.com) dan peritel elektronik Circuit City Stores Inc. (www.circuitcity.com) bekerjasama sebelum masa liburan datang. Hal itu memungkinkan pelanggan Amazon masuk ke Amazon, membeli kamera digital, dan mengambil barangnya di Circuit City terdekat. Jika kamera tersebut rusak karena jatuh dan tak dapat digunakan lagi, penggantinya tersedia dan dapat diambil di Circuit City. Dalam hal ini, Amazon mengoutsource layanan pelanggannya ke Circuit City.
Pola yang ditunjukkan oleh kerjasama antara Amazon dan Circuit City ini menunjukkan bahwa outsourcing dilihat dari sudut yang berbeda. Outsourcing tidak hanya dilakukan karena kita tidak dapat melakukannya saja, melainkan berubah menjadi suatu aliansi strategis karena dimilikinya keunggulan-keunggulan tersendiri, yang jika disatukan akan membentuk suatu kekuatan baru yang lebih powerful. Sekarang, bahkan proses bisnis yang bersifat lintas departemen, seperti logistik, manufaktur bahkan riset, sekalipun telah banyak dioutsource ke perusahaan lain. Hasil riset Gartner Group menunjukkan bahwa outsource proses bisnis dunia bertumbuh sebesar 23% setahun dan nilainya mencapai $300 miliar pada 2004.
Bagaimana dengan batasannya? Apakah semuanya bisa dioutsource? Beberapa perusahaan melihatnya hampir tak ada batasnya. Bayer AG, perusahaan farmasi raksasa Jerman, bahkan telah mengoutsource hampir 30% area kegiatan yang dapat menghancurkan perusahaan: riset dan pengembangan jangka panjang. Di lingkungan industri farmasi, sekitar 20% pengembangan obat-obatan sekarang ini telah dioutsource, dan perusahaan riset Frost & Sullivan memperkirakan bahwa hingga 2004 sekitar 42% dari semua pembiayan pengembangan obat-obatan farmasi ($38.4 miliar) akan dikeluarkan untuk biaya outsourcing mitra bisnis.
Namun, perusahaan masih saja dapat melakukan kesalahan jika mereka hanya melihat kemampuan perusahaan sebagai suatu entitas tersendiri dan tidak mempertimbangkan seberapa besar pengaruhnya terhadap bidang-bidang lainnya. Mungkin hasilnya berupa peningkatan efisiensi, namun efisiensi tidak berada di dunia vakum, ia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh bidang lainnya.
Yang juga tak kalah serunya dan perlu mendapat perhatian adalah “scope” pekerjaan dan fleksibilitas dalam melakukannya. Karena, perubahan waktu terkadang membutuhkan perubahan atau penyesuaian, yang bukan tidak mungkin justru akan semakin membuatnya optimal.
Paradigma Baru
- Posted: Sunday, October 09, 2005
- |
- Author: pradhana
- |
- Filed under: My Column
Sadar atau tidak, saat ini kita tengah menghadapi berbagai tantangan perubahan yang sangat besar. Baik, terhadap kehidupan pribadi dan keluarga dalam interaksinya dengan masyarakat di sekitar maupun terhadap organisasi dan karyawan dalam konteks persaingan bisnis.
Perubahan-perubahan itu dipicu oleh sejumlah “kekuatan penggerak” dalam berbagai arah dan dimensi. Sebut saja, perkembangan teknologi telekomunikasi telah “mengecilkan” dunia, seolah tak lagi berjarak. Komunikasi, kini, dapat dilakukan dengan berbagai perangkat, baik tetap (fixed devices) maupun bergerak (mobile devices), dari mana dan kapan saja. Bahkan, sambil tiduran pun kita dapat berhubungan dengan teman, saudara atau siapa saja yang berada di nun jauh di mancanegara.
Peningkatan keragaman pekerja juga telah membawa berbagai rangkaian nilai yang berbeda, perspektif dan harapan di antara mereka. Para manajer pun semakin dituntut untuk menyadari perubahan-perubahan itu dan, lebih jauh, bagaimana dia mengelolanya secara efektif.
Begitu juga, kesadaran terhadap lingkungan sosial semakin tinggi sensitivitas dan tuntutannya terhadap organisasi, yang mendorongnya untuk semakin responsif terhadap lingkungannya. Dari isu-isu lingkungan, ekonomi dan sosial-politik hingga komunikasi personal.
Lebih jauh dari itu, banyak negara-dunia ketiga telah bergabung dengan global marketplace, yang kemudian semakin membuka peluang bersaing di tingkat global dalam penjualan dan layanan. Karenanya, organisasi tak lagi hanya bertanggungjawab terhadap pemegang saham (stockholder), melainkan juga terhadap komunitas yang lebih besar (stakeholder).
Akibatnya, muncul tuntutan bagi organisasi untuk mengadopsi “paradigma baru”, yakni menjadi lebih sensitif, fleksibel dan dan adaptable terhadap kebutuhan dan harapan stakeholder. Banyak organisasi, dewasa ini, mulai menyadari hal itu, dan kemudian mengambil langkah untuk tidak lagi menerapkan organisasi tradisional yang bersifat top-down, kaku dan strukturnya sangat hirarkis, tetapi lebih berbentuk “organik” dan mencair.
Para manajer masa kini harus terkait dengan perubahan-perubahan yang terus-menerus dan berjalan sangat cepat. Mereka yang menghadapi pengambilan keputusan-keputusan besar dan penting tak dapatr lagi mengacu kepada perencanaan pengembangan yang telah dilakukan untuk memberi arah. Teknik manajemen harus secara terus-menerus mengingatkan perubahan-perubahan dalam lingkungan dan organisasi, menilai dan sekaligus mengelola perubahan tersebut. Mengelola perubahan tidak berarti mengendalikannya, tetapi lebih memahami, mengadopsi di mana dibutuhkan dan mengarahkannya jika mungkin.
Konsekuensinya, karena para manajer tidak mengetahui semua hal dan memahami semua situasi, maka ia harus lebih terbuka, menghargai dan mau mendengar karyawannya. Tak heran, jika kemudian muncul tipe organisasi baru, yang lebih berorientasi ke karyawan: worker-centered, self-organizing, self-designing teams dan lain sebagainya.
Marilyn Ferguson, dalam bukunya The New Paradigm: Emerging Strategic for Leadership and Organizational Change (Michael Ray and Alan Rinzler, Eds, 1993, New Consciousness Reader), membeberkan suatu gambaran yang sangat tepat mengenai perbedaan antara paradigma lama dan baru.
Kalau dahulu orang harus disesuaikan dengan pekerjaannya, sekarang pekerjaan yang harus disesuaikan dengan orangnya. Kalau dahulu bersifat agresi dan kompetisi, sekarang justri kooperasi; berjuang untuk kestabilan menjadi sensitive terhadap perubahan; manipulasi dan dominan menjadi bekerjasama dengan alam; menetapkan tujuan dan pengambilan keputusan atas-bawah menjadi mensdoroing otonomi dan partisipasi karyawan; kuantitatif menjadi kuantitatif sekaligus kualitatif; melihat jangka pendek menjadi secara ekologi sensitif; rasional menjadi rasional dan sensitif; menekan solusi jangka-pendek menjadi mengenali efisiensi jangka panjang sangat terkait dengan lingkungan kerja yang harmonis; semata motif ekonomi menjadi nilai-nilai spiritual akan mendorong keuntungan material; sentraliasi menjadi desentralisasi jika dimungkin dan masih banyak lainnya.
Search-
E-Commerce Optimization-
Nice Offers, Great Savings-
Recent Comments-
Sponsor Ad-
Blog Feeds-
Sponsor Ad-
You Are The Visitor No:-
Categories-
- 3G Handset (35)
- 3G Networks (3)
- 4G (2)
- Adobe (4)
- Android Phone (16)
- Apple (63)
- Artisteer (1)
- Bandwidth (1)
- Biometric (1)
- Biometric Spending (1)
- Blackberry (15)
- Bluetooth (10)
- BREW (3)
- Broadband (34)
- BTS (2)
- Business Applications (1)
- BWA (1)
- CDMA (6)
- China Mobile (2)
- Cisco (1)
- CPE (1)
- Digital Media (26)
- DTT Service (1)
- Electronic Crime (1)
- FCC White Space (2)
- Femtocell (12)
- Firefox (1)
- Fixed-Broadband (1)
- Fixed-Mobile Convergence (3)
- Gadget (55)
- Global Education (1)
- Go Green (1)
- Google (32)
- Google Android (28)
- Google's Chrome (2)
- GPS Devices (3)
- Handset (34)
- Hard Drive (2)
- HDTV (2)
- Hewlett-Packard (1)
- Home Area Networks (3)
- HSDPA (18)
- HSDPA Handset (1)
- HSPA (3)
- HTC (13)
- IMS (1)
- Inflight WiFi Access (2)
- Internet Camera (2)
- Internet Phone (1)
- Internet Users (2)
- iPad (10)
- iPhone (81)
- iPhone Security (1)
- iPlayer (1)
- iPod (12)
- IPTV (4)
- iTunes (1)
- Laptop (2)
- Latitude (1)
- LBS Infrastructures (2)
- LBS Service (5)
- LG (18)
- LiMo (1)
- Linux (4)
- LTE (31)
- m-payment (2)
- M2M Devices (1)
- Market Survey (77)
- Merger and Acquisition (4)
- Microsoft (11)
- Miscellaneous (104)
- Mobile 3G (21)
- Mobile Advertising (13)
- Mobile Applications (10)
- Mobile Broadband (4)
- Mobile Business (4)
- Mobile Consumers (1)
- Mobile Content (37)
- Mobile Data (3)
- Mobile Device (4)
- Mobile Features (1)
- Mobile Future (1)
- Mobile Gaming (5)
- Mobile Internet (4)
- Mobile Music (2)
- Mobile Network (2)
- Mobile Phone Sales (2)
- Mobile Services (46)
- Mobile TV (20)
- Mobile Web Browser (3)
- Mobile Web Development (1)
- Mobile Web Security (1)
- Mobile WiMAX (34)
- Motorola (22)
- Mozilla (1)
- MP3 Player (5)
- Multimedia (1)
- My Column (37)
- MySpace (6)
- Netbook (4)
- New Format (3)
- New Music Experience (1)
- NextGen Mobile (1)
- Nokia (46)
- Non-Handset (1)
- NTT DoCoMo (8)
- Opera (13)
- Presto Application (1)
- Qualcomm (10)
- RFID (11)
- RIM (4)
- RTIV (1)
- Samsung (27)
- Search Ads (1)
- Skype (7)
- Smartphone (79)
- Social Networking (9)
- Sony Ericsson (29)
- Storage (3)
- Strategic Partnership (3)
- Symbian OS (1)
- Toshiba (1)
- Twitter (2)
- Ultra Mobile Device (2)
- User Generated Content (1)
- Verizon Wireless (3)
- Video Server (1)
- Vision (1)
- VoIP (12)
- VoWi-Fi (1)
- WCDMA (2)
- Web 2.0 (6)
- Wi-Fi (45)
- Wi-Fi Hotspots (4)
- WiMax (59)
- Windows Mobile (12)
- Wireless Service (48)
- Wireless Video (3)
- Yahoo (6)
- YouTube (4)
- Zumobi (1)
- Zune (4)
Blog Archive-
Lemon Twist Blogger Template is an extremely beautiful blogger template created by JackBook.Com based on Lemon Twist Wordpress themes by farfromfearless.com. Thanks to Chris Murphy and Jacky Supit for this great template.
- Copyright © 2008-2011 Mobile & Wireless. All Rights Reserved. Powered by Blogger
- Back To Top
- Log in
- Blogger
- Home

Recommended Links-